TUTUP
TUTUP
FOKUS

Misi Besar Industri Game Nasional

Pada 8 Agustus 2016 ditasbihkan sebagai Hari Game Nasional.
Misi Besar Industri Game Nasional
Hari Game Indonesia (www.harigameindonesia.com)

VIVA.co.id - Ada yang berbeda pada bulan Agustus pada tahun ini. Sejak tahun ini, 8 Agustus ditetapkan sebagai Hari Game Indonesia.

Penetapan Hari Game Indonesia itu dilakukan oleh Asosiasi Game Indonesia (AGI). Seperti halnya penentuan hari-hari khusus, maka Hari Game Indonesia (Hargai) disambut sumringah oleh komunitas terkait, yaitu pegiat dan komunitas game di Tanah Air.

"Melalui Hari Game Indonesia, AGI ingin mengajak seluruh elemen seluruh masyarakat untuk bersama-sama memberikan penghargaan kepada seluruh masyarakat Indonesia, yang selama ini mendukung industri game di negara sendiri," ujar AGI dalam siaran persnya, Senin 8 Agustus 2016.

Hargai merangkul semua industri game di Tanah Air, mulai dari pengembang, penerbit, solusi pembayaran, boardgame, dan media.

Disebutkan, dalam memeriahkan perayaan tersebut, berbagai promo produk, game, voucher, in app purchase, dan lainnya bisa dinikmati gamers. Google Play memberikan kejutan di Play Store dengan menampilkan berbagai game mobile pilihan Tim Google.

Pengembang game lokal yang berpartisipasi pada Hari Game Indonesia, meliputi Agate Studio, ATV Production, Gleo Games, Toge Productions, Altermyth, Cumaceban, Gambreng Games, Aji Mumpung, Game5mobile, Alkemis, Artoncode, Digital Happines, GameLevelOne.

Kemudian, Gundu Production, Ozysoft, Tebak Gambar, Tinker Games, Cucunguk, Pure Nature Studio, Veter Slyph, Falkana Studio, Own Games Tahu Bulat, Guild Entertainment, dan Educa Studio.

Sementara itu, penerbit game (publisher) Indonesia yang terlibat, Lyto, Megaxus, Kreon Gemscool, Orange Game, Garena Indonesia, Dunia Gamers memberikan online event dan tawaran promo game dengan diskon sampai 90 persen.

Tak hanya komunitas game dalam negeri, penetapan Hargai itu didukung oleh sejumlah instansi pemerintahan dalam negeri. Tercatat Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Kementerian Perindustrian sampai Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyambut Hargai sebagai hal yang positif.

Pada pernyataannya, Kominfo telah merestui keberadaan Hari Game Indonesia ini.

“Industri game online di Tanah Air memiliki potensi yang baik ke depannya. Saya berharap aplikasi game buatan anak Indonesia bisa dikenal di kancah dunia,” ucap Menteri Rudiantara dalam acara kejuaraan game dikutip situs Kemkominfo.

Dukungan itu, menunjukkan cara pemerintah dalam keberpihakan kepada pelaku industri game agar merasa menjadi tuan rumah di negara sendiri.

Tuan rumah di dalam negeri

Dalam kacamata Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Hari Game Indonesia itu menunjukkan pengakuan negara atas peran penting game dalam perkembangan budaya kontemporer dan perkembangan perekonomian nasional.

Industri game, menjadi salah satu industri nasional yang masuk dalam rencana Bekraf. Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Ricky Joseph Pesik mengatakan, institusinya fokus dalam hal mendukung fasilitas hak kekayaan intelektual para kreator industri kreatif, pembangunan ekosistem industri yang memberi jalan pelaku untuk menguasai pasar dalam negeri.

"Dan juga pendukungan strategis untk industri game nasional bicara di pasar dunia," ujar Ricky.

Dalam pernyataanya, AGI menegaskan momentum Hari Game Indonesia itu diharapkan bisa meningkatkan perhatian masyarakat atas keberadaan pengembang game lokal beserta karya mereka. AGI mengatakan tujuan Hari Game Indonesia ini yakni sesuai dengan keinginan pemerintah, agar pelaku industri game di Tanah Air menjadi tuan rumah di dalam negeri.

"Pemerintah dan pelaku industri ini siap menjadi ruan rumah di rumahnya sendiri dengan meraih pangsa pasar lokal tidak kurang dari 50 persen pada 2020," kata AGI.

Soal potensi game di Tanah Air, bisa disimak dari data lembaga riset pasar game Newzoo. Menurut data riset Newzoo pada 2015, pasar game di Indonesia diprediksi akan menghasilkan pendapatan sampai US$321 juta atau Rp4,2 triliun pada 2015. Angka tersebut tumbuh 56 persen dibanding potensi pasar game  pada 2014.

Peningkatan pasar game di dalam negeri tersebut membuat Indonesia berada di peringkat 24, untuk pasar game terbesar di dunia. Angka US$321 juta menjadikan Indonesia sebagai pasar kedua terbesar di Asia Tenggara.

Data Newzoo menunjukkan, dari total 42,8 juta penikmat game di Indonesia pada 2015, 24,1 juta pemain game itu rela mengeluarkan koceknya demi bisa bermain dan menikmati game. Sementara rasio pembeli dan pemain game bisa mencapai 56 persen. Angka rasioa tersebut, menurut Newzoo, berada di atas rata-rata negara yang ada di Asia Tenggara.

Newzoo mencatat rata-rata uang yang dihabiskan untuk memainkan game per tahun mencapai US$13,3, yang mana angka tersebut di bawah rata-rata Asia Tenggara.

Setahun kemudian perkembangan pasar game makin meningkat. Angka Newzoo per Juni 2016 menunjukkan perkembangan yang signifikan. Data terbaru dalam peringkat 100 negara dengan pendapatan game terbesar, Indonesia menempati peringkat ke-17 dengan pendapatan game mencapai US$704,3 juta atau lebih dari Rp9,2 triliun.

Pencapaian itu mengalahkan negara di Asia Tenggara. Dalam peringkat 100 negara tersebut, Malaysia ada di posisi ke-18 dengan penghasilan game US$539,4 juta (lebih dari Rp7,07 triliun), kemudian Thailand di peringkat ke-20 dengan pendapatan game US$521,2 juta (lebih dari Rp6,83 triliun), Singapura di peringkat ke-30 dengan pendapatan game US$294,09 juta (lebih dari Rp3,85 triliun) dan Vietnam diperingkat ke-31 dengan pendapatan game US$277,46 juta (lebih dari Rp3,63 triliun).

Rumah belum kokoh

Founder dan Director Cumaceban dan Owner & Cehif Executive Officer (CEO) KotakGame, Christian Lyman mengatakan, angka tersebut menunjukkan pasar game Indonesia telah merajai Asia Tenggara dan terus mengalami pertumbuhan secara global. Tapi dari sisi popularitas, dia mengakui game lokal masih belum merajai di dalam negeri.

Dia mengatakan industri game Indonesia terus tumbuh dari negara lain karena meningkatnya pengguna internet.

"Kalau negara lain itu stagnan, kalau Indonesia itu terus mengalami pertumbuhan," ujar Christian melalui sambungan telepon dengan VIVA.co.id, Senin, 8 Agustus 2016.
 
Potensi game yang menggiurkan itu nyatanya tak direspons dengan kesiapan ekosistem game lokal. Target telah dicanangkan, tapi kondisi 'rumah' game Indonesi masih belum kokoh.

Kondisi itu gambarkan oleh Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo, Bambang Heru Tjahyono, pada awal tahun ini.

Dikutip dari situs Mastel, Bambang mengatakan memang Kominfo menyasar game sebagai salah satu fokus kementerian. Fokus tersebut untuk mengembangkan industri game Indonesia.

Tapi diakui pelaku di Industri game lokal, awal tahun ini, terbilang sudah berkembang. Sebabnya proporsi pengembang game di dalam negeri yang belum terlalu banyak. Tercatat, per awal tahun lalu, hanya ada 1 ribu studio game di Indonesia. Kemudian kendala lainnya, industri game nasional tak berkembang lantaran tak ada penyatuan pengembang dan penerbit game lokal.

Bambang mengatakan yang terjadi penerbit lokal lebih tertarik mengambil game dari luar Indonesia, sebaliknya pengembang lokal malah diambil pengembang luar negeri.

Praktis, dengan kondisi itu, pengasaan pelaku game lokal terhadap pangsa pasar game di Indonesia nyaris belum begitu dominan. Bambang menyebutkan, pelaku game lokal hanya menguasai 9,6 persen dari total pasar game nasional, jauh dari target menguasai setengah dari pangsa pasar yang dicanangkan pada 2020.

Sementara kontribusi pengembang game lokal hanya hanya 1,2 persen saja, sisanya dimiliki asing. Persentasi penguasaan pangsa pasar game dalam negeri oleh pelaku game lokal bisa makin menipis jadi 3 persen pada 2019, jika tak ada gerak dari pemerintah dan pelaku industri game lokal.

Ekosistem game dalam negeri yang belum kokoh diakui oleh Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Ricky Joseph Pesik.

Dia mengakui, masalah ekosistem industri game yang dilontarkan Bambang. Menurutnya, solusi dari kendala ekosistem itu adalah pemerintah harus cepat membenahi eksosistem industri.

Batu sandungan

Dalam hal pembenahan itu, Ricky mengatakan Bekraf sedang menyelesaikan peta jalan dan program pendukung promosi game nasional di pasar internasional.

"Memang baru dimulai, ada kami promosikan game nasional di Jerman pada Oktober dan Tokyo. Dampak promosi game ini baru bisa diukur tahun depan," kata dia kepada VIVA.co.id.

Founder & Director Cumaceban dan Owner & CEO KotakGame, Christian Lyman mengatakan, ada sejumlah tantangan yang bisa menjadi batu sandungan industri game ke depannya, mulai dari infrastruktur dan perangkatnya. Dari jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 260 juta, tapi yang terkoneksi internet hanya 30 persen.

"Kita masih ada PR untuk memperkenalkan internet kepada 70 persen populasi Indonesia. Kualitas dan kestabilan jaringan internet Indonesia sekaran menempati rangking 41 dari 50 (negara). Lalu, perangkat smartphone juga masih banyak kategori low end dan itu membatasi jenis game yang dimainkan," ucapnya.

Selain itu, dilihat dari posisi teratas di Play Store pada kategori Top Chart dan Top Grossing saja hampir semuanya adalah permainan bukan karya Indonesia. Dari data Play Store per 4 Agustus 2016, ada beberapa judul Indonesia, tetapi sesungguhnya judul tersebut bersifat localize dari title luar negeri.

"Title game developer lokal yang saya cek di rangking di Playstore dari 500 title, cuma ada tiga, yakni di posisi 66, 365, dan 495. Jadinya, bisa dipastikan hampir sebagian besar revenue game mobile di Indonesia (belum) dinikmati developer lokalnya," katanya.

Untuk itu, adanya Hari Game Indonesia yang pertama kali diperingati tanggal 8 Agustus, menjadi pertanda sejumlah elemen pengembang, penerbit, solusi pembayaran, boardgame, dan media untuk mendorong industri game lokal, sekaligus edukasi kepada masyarakat.

"Tentu, para developer senang banget adanya penentuan Hari Game Indonesia. Dari kemarin, kita janjian untuk memberikan promo di tanggal 8 Agustus ini. Dalam empat tahun ke depan, diharapkan meraih 50 pangsa pasar lokal," ucap Christian dengan optimis.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP