TUTUP
TUTUP
FOKUS

Ramai-ramai Tolak Samsung Galaxy Note 7

Ponsel tercanggih itu belakangan ini malah jadi barang berbahaya.
Ramai-ramai Tolak Samsung Galaxy Note 7
Samsung Galaxy Note 7 (REUTERS/Kim Hong-Ji)

VIVA.co.id – Awal Agustus lalu, pimpinan Samsung Electronics dengan bangga memperkenalkan perangkat andalan teranyar – Galaxy Note 7 – ke penjuru dunia. Raksasa teknologi Korea Selatan itu yakin bahwa ini ponsel pintar yang paling canggih, melebihi merek-merek apa pun – termasuk Apple – dengan menonjolkan produktivitas, hiburan serta fitur keamanan yang kuat dan terbaru, yaitu teknologi pemindai selaput pelangi mata.

President of Mobile Communication Business Samsung Electronics, DJ Koh, saat itu mengatakan, Galaxy Note 7 didukung ekosistem kuat dan perangkat itu dihadirkan untuk memudahkan kehidupan pengguna.

Samsung makin girang dengan respons pasar yang tinggi. Hampir di seluruh dunia, pemesanan Galaxy Note 7 habis. Samsung bahkan mengaku sampai kewalahan memenuhi permintaan pemesanan konsumen di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Respons yang begitu tinggi itu menjadi titik meyakinkan untuk menyaingi Apple, yang baru meluncurkan perangkat terbaru mereka, seri iPhone 7, sebulan setelah Galaxy Note 7. Memang Samsung selama ini sengaja mendahului peluncuran perangkat andalannya, sebelum Apple meluncurkan seri baru iPhone. Harapannya jelas, ingin 'merusak' pasar iPhone.

Namun, belum genap sebulan diperkenalkan, antiklimaks mulai menghampiri Galaxy Note 7. Muncul berbagai keluhan dari pengguna konsumen Galaxy Note 7 yang meledak saat pengisian ulang baterai perangkat tersebut.

Per 1 September 2016, Samsung menerima 35 keluhan baterai Galaxy Note 7. Ada yang menyebutkan Galaxy Note 7 meledak saat pengisian daya. Terdapat insiden yang menimbulkan kebakaran dan melukai penggunanya.

Momen indah Samsung itu ternyata berjalan singkat. Merasa problem sudah sangat parah, perusahaan Korea Selatan itu memutuskan menarik kembali (recall) 2,5 juta unit Galaxy Note 7 yang telah dipasarkan di 10 negara termasuk di Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Recall produk Galaxy Note akan dimulai pada 19 September sampai Maret tahun depan. Diperkirakan, setidaknya 400 ribu konsumen terdampak dari kebijakan recall tersebut. Media dan analis menduga setidaknya 1,6 juta unit Galaxy Note 7 tergolong cacat baterainya.

Samsung pun meminta maaf kepada konsumen atas ketidaknyamanannya dan mengakui memang ada masalah pada Galaxy Note 7.

"Samsung berkomitmen memproduksi produk kualitas tinggi dan kami menanggapi tiap laporan insiden dari pelanggaran kami yang sangat serius," jelas Samsung.

Tak mau kebakaran jenggot. Samsung menginvestigasi problem baterai tersebut, dan belakangan memang hasil penyelidikan ada problem kualitas beterai.

"Berdasarkan investigasi, kami mempelajari ada masalah pada sel baterai. Sebuah overheating sel baterai terjadi saat kontak anoda ke katoda, yang mana itu kesalahan proses manufakturing sangat langka," jelas Samsung.

Namun Samsung mengakui, problem baterai tersebut hanya melanda perangkat Galaxy Note 7 saja. Perusahaan tersebut memastikan perangkat jenis lain tak terdampak problem tersebut. Atas problem baterai itu, Samsung menyalahkan divisi baterai mereka, yaitu Samsung SDI.

Menyusul problem baterai tersebut, Wall Street Journal dan Korea Herald melaporkan, menyusul problem recall ini, Samsung telah menghentikan divisi pembuat baterainya, Samsung SDI dalam memproduksi Galaxy Note 7 pada tahapan berikutnya.

Belajar dari kasus Galaxy Note 7 itu, Samsung lebih memilih perusahaan China, ATL, untuk memasok baterai Galaxy Note 7. ATL selama ini sudah memasok beberapa baterai Galaxy Note 7 untuk yang diedarkan di pasar China dan Hong Kong.

Alasan penghentian Samsung SDI diduga lantaran divisi itu bertanggung jawab atas kesalahan baterai Galaxy Note 7 yang mana menyebabkan perangkat meledak.

Samsung tak membenahi internal mereka saja. Bersamaan dengan recall, Samsung juga menyertakan program kompensasi berupa penukaran Galaxy Note 7 dan pengembalian dana (refund).

Dalam program pertukaran yang ditawarkan, pengguna Galaxy Note 7 diberikan dua pilihan. Pertama, menukarkan Galaxy Note 7 dengan Galaxy Note 7 baru, tapi penukaran jenis perangkat yang sama ini harus mendapat persetujuan dari Komisi Keamanan Produk Konsumen Amerika Serikat (CPSC).

"Tapi sebelum mendapatkan Galaxy Note 7 yang baru, maka pengguna akan dipinjami dengan Galaxy J Series atau perangkat yang setara. Silakan pilih operator ritel outlet yang menyediakan opsi ini," tulis Samsung.

Sementara opsi kedua yaitu, menukarkan Galaxy Note 7 dengan Galaxy S7 atau Galaxy S7 Edge, dengan mengembalikan penuh aksesori Galaxy Note 7. Samsung mengatakan, pengembalian dana akan mempertimbangkan perbedaan antara dua perangkat tersebut.

"Kami sangat menganjurkan semua konsumen untuk memanfaatkan program pertukaran ini, sebab keamanan Anda adalah prioritas kami," tulis Samsung dalam keterangan di situsnya, dikutip pada Minggu 11 September 2016.

Sementara, pasar Indonesia juga terdampak. Menindaklanjuti keputusan Samsung tersebut, PT Samsung Electronic Indonesia, mengatakan sudah mengumumkan keterlambatan pengambilan pemesanan Galaxy Note 7 pada 30 Agustus 2016.

Samsung bertanggung jawab kepada konsumen Samsung di Tanah Air yang telah memesan Galaxy Note 7.

"Samsung Electronics Indonesia memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi dan menghargai kesabaran konsumen yang telah melakukan pre-order Galaxy Note7," tulis Samsung dalam keterangannya kepada VIVA.co.id, Senin 5 September 2016.

Samsung Indonesia juga siap mengembalikan dana secara utuh kepada konsumen di Tanah Air yang sudah memesan Galaxy Note 7.

Dilarang Terbang

Problem baterai Galaxy Note 7 sampai ke telinga para pengelola otoritas penerbangan. Menyadari potensi munculnya kebakaran perangkat tersebut saat penerbangan, maka Badan Penerbangan Federal AS (FAA) mengingatkan penumpang pesawat untuk tidak menggunakan Samsung Galaxy Note 7 dalam penerbangan. Larangan penggunaan tersebut termasuk menghidupkan atau mengisi baterai ponsel Samsung model terbaru itu.

Kabar FAA merilis larangan aktivitas menggunakan Galaxy Note 7 di pesawat sudah beredar pada Sabtu 20 September 2016.

Pengumuman FAA itu kemudian diikuti oleh maskapai dunia. Tercatat beberapa maskapai internasional yang melarang pengisian ulang baterai Galaxy Note 7 di pesawat yaitu Etihad Airways, Flydubai, Air Arabia, Singapura Airlines, AirAsia, Qantas, Virgin Australia, Jetsar Airways, SAS Airlines (Skandinavia), Air France sampai maskapai Indonesia.

Semua maskapai merilis larangan pengisian ulang baterai Galaxy Note 7 di pesawat dengan mempertimbangkan keselamatan dan imbauan dari FAA.

Sementara itu, di India, pelarangan Note 7 ini di India tersebut dikeluarkan langsung dari level pemerintah, yakni Kementerian Penerbangan Sipil India.

Di Uni Emirat Arab, larangan aktivitas menggunakan Galaxy Note 7 dikeluarkan otoritas penerbangan sipil Uni Emirat Arab. Larangan seperti yang dirilis FAA, yang mencakup memakai, mengisi ulang baterai dan menyimpan Galaxy Note 7 di bagasi.

"Ini adalah tindakan pencegahan untuk menjamin keselamatan penerbangan," jelas Kepala Otoritas Penerbangan Sipil Uni Emirat Arab, Saif al-Suwaidi dikutip dari Aboutcroatia.

AirAsia dalam keterangannya juga menekankan risiko keamanan dari Galaxy Note 7 dan problem baterai pada perangkat itu. AirAsia dan AirAsia X melarang penumpang menggunakan dan mengisi baterai Galaxy Note 7 sampai ada pemberitahun lebih lanjut.

Dari maskapai dalam negeri, Garuda Indonesia meminta setiap penumpang yang memiliki perangkat Samsung Galaxy Note 7 untuk dapat menonaktifkan perangkat tersebut setiap saat selama penerbangan.

"Dan penumpang dilarang untuk mengisi ulang baterai perangkat tersebut selama dalam pesawat. Perangkat tersebut juga tidak diperkenankan untuk diletakkan di bagasi tercatat milik Anda," tulis Garuda Indonesia dalam pengumumannya.

Vice President Corporate Communications Garuda Indonesia, Benny S. Butarbutar mengatakan imbauan dari FAA tersebut menyusul atas proses recall seluruh produk Samsung Galaxy Note 7.

Untuk itu, kata Benny, Garuda Indonesia meminta dengan tegas seluruh penumpang untuk tak mengoperasikan handphone selama penerbangan, terlebih dengan rilis dari FAA tersebut. Bahkan, penumpang Garuda Indonesia diminta tak menyalakan handphone meski dalam mode airplane, mengisi ulang baterai dan memasukkan perangkat ponsel di bagasi.

“Imbauan FAA berkaitan dengan aspek keamanan dan keselamatan penerbangan. Ke depannya kami akan mengevaluasi imbauan ini sampai dengan adanya informasi resmi dari FAA” kata Benny.

Garuda Indonesia telah mengkomunikasikan imbauan tersebut secara internal dan memasang imbauan itu secara tertulis di konter check-in di bandara yang diterbangi maskapai nasional itu.

Sementara Sriwijaya Air, lebih awal merilis larangan penggunaan Samsung Galaxy Note 7 di pesawat.
Senior Manager Communication Sriwijaya, Air Agus Soedjono, mengatakan perusahaannya telah menerima pemberitahuan dari FAA pada Kamis lalu.

Dia mengatakan, pada dasarnya larangan Galaxy Note 7 menguatkan ketentuan larangan penggunaan handphone di pesawat.

"Ini (rilis tentang Galaxy Note 7) mungkin tambahan, bahwa ada baterai yang dianggap FAA lebih bahaya. Makanya ini di-reminding (diingatkan) lagi dengan penekanan Galaxy Note 7," jelasnya.

Public Relation Manager Lion Air, Andy Saladin mengatakan, pada hari ini perusahaannya memberlakukan dan mempublikasi informasi pelarangan Galaxy Note 7 di pesawat Lion Air.

"Ya sudah mulai berlaku hari ini. Kami sedang publish informasinya melalui media sosial kami," kata Andy kepada VIVA.co.id.

Andy mengatakan, Lion Air mengeluarkan pengumuman Galaxy Note 7 menyusul dari informasi yang dikeluarkan FAA.

Kerugian Samsung

Keputusan recall tentunya membuat Samsung kehilangan momentum untuk meraup untung. Sebaliknya, recall berpotensi merugikan perusahaan tersebut.

Laman Chosun Ilbo, memperkirakan dengan recall 2,5 juta unit Galaxy Note 7, biayanya mencapai Rp23,8 triliun. Sementara versi lain biaya recall itu mencapai US$1 miliar atau Rp13,1 triliun.

Para analis memperkirakan, recall tersebut setidaknya membuat Samsung berpotensi kehilangan pendapatan hampir mencapai US$5 miliar pada tahun ini.

Dikutip dari BGR, perusahaan finansial multinasional berbasis di Swiss, Credit Suisse, menaksir setidaknya Samsung bisa mengantongi US$600 (Rp7,9 juta) pendapatan dan US$108 (Rp1,4 juta) laba operasional untuk tiap penjualan unit Galaxy Note 7.

Sementara sesuai rencana awal, Samsung diperkirakan akan mengapalkan empat sampai lima juta unit pada kuartal saat ini dan akan mengirimkan delapan sampai sembilan juta unit selama kuartal terakhir tahun ini.

Analis Samsung Securities, Hwang Min-sung, dikutip Korea Herald, mengatakan keputusan recall dan program pertukaran berbiaya Rp1,4 triliun.

Sang analis itu mengatakan program recall dan penukaran itu bakal memangkas laba operasional Samsung mencapai Rp4,7 triliun. Sedangkan, Hwang mengatakan, pada kuartal terakhir, recall menelan biaya Rp3,57 triliun.

Namun demikian Hwang mengakui recall memang merupakan faktor negatif bagi Samsung, tapi dia yakin momen buruk itu berlangsung dalam jangka pendek dan pada akhirnya Samsung bakal bangkit. Dia melihat, investor cenderung melihat positif keputusan recall Samsung tersebut.

"Pasti (recall) akan menjadi keputusan yang bijaksana, sebab langkah alternatif lainnya tidak mungkin untuk membantu Samsung mendapatkan kembali kepercayaan dari konsumen dan investor," kata dia.

 

(ren)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP