TUTUP
TUTUP
FOKUS

Kontroversi Nobel Sastra Bob Dylan

Liriknya yang puitis, pantaskah selevel dengan sastra?
Kontroversi Nobel Sastra Bob Dylan
Musisi Bob Dylan. (REUTERS/Rob Galbraith)

VIVA.co.id – Lirik-lirik puitis Bob Dylan tak pernah usang dimakan waktu. Menggabungkan nilai politik, sosial, filosofis, dan sastra, Bob Dylan adalah penyanyi dan penyair kelahiran Mei 1941 kebanggaan Amerika Serikat.

Karya-karya Dylan diagung-agungkan pada tahun 60-an saat situasi sosial politik AS sedang berkecamuk. Beberapa lagunya, seperti Blowin in the Wind dan The Times They Are a-Changin menjadi anthem gerakan hak sipil dan oposisi menentang Perang Vietnam.

Ia adalah seorang legenda yang sudah menularkan budaya dan musiknya selama lebih dari lima dekade. Dylan adalah sosok pencipta musik berbagai genre. Selama 50 tahun lebih berkarier, ia telah mengeksplorasi berbagai jenis musik, dari folk, blues, country, rock and roll, dan lain sebagainya.

Salah satu karya Bob Dylan saat remaja, sebuah puisi berjudul Little Buddy atau yang berarti Sahabat Kecil, bahkan pernah dilelang dengan harga yang fantastis. Puisi itu, seperti dilansir Female First, merupakan kisah sedih tentang anjing Bob yang digigit pemabuk hingga tewas.

Sedikit kutipan kecilnya, "Lukisan kesedihan, hati yang hancur, mata biru besar yang sedih itu berlinang air mata. Seorang bocah dengan bangga berlutut di samping sahabatnya", rupanya mampu membuat banyak orang terenyuh.

Keindahan sajak yang merupakan renungan Bobby pada pertengahan 1950-an itu dipamerkan Balai Lelang Christie pada tahun 2009. Konon, puisi itu ditargetkan terjual hingga US$15 ribu atau lebih Rp 150 juta. Berbagai musisi dunia pun menunjukkan rasa hormat dan kagum pada sang legendaris ini. Salah satunya, Bono dari U2 yang memuji lagu-lagu Bob memiliki kekuatan lirik puitis.

Memenangkan Nobel Sastra

Dalam industri musik, Bob Dylan sudah menjual lebih dari 100 juta rekaman dan menjadikannya sebagai salah satu artis dengan penjualan terbaik sepanjang masa. Berbagai penghargaan telah diraihnya, sebut saja Grammy Awards, Golden Globe Award, dan juga Academy Award. Yang terbaru, Bob Dylan berhasil menyabet penghargaan Nobel di bidang sasta, Kamis, 13 Oktober 2016.

Pria yang kini berumur 75 tahun itu menjadi tokoh ke-259, sekaligus musisi pertama dalam sejarah, yang meraih penghargaan bergengsi tersebut. Tak hanya itu, Bob Dylan adalah orang kedua yang menerima dua penghargaan bergengsi sekaligus, Oscar dan hadiah Nobel, setelah George Bernard Show.

Kiprah Bob Dylan sebagai musisi dan penyair handal telah diakui oleh semua kalangan. Keahliannya membuat lirik yang mampu menggerakkan hati diakui sebagai yang terbaik di kelasnya.

“Ia adalah contoh tepat untuk menggambarkan seseorang yang lihai bersajak, menyatukannya dalam nada, melalui cara berpikirnya yang brilian,” ujar sekretaris Swedish Academy, Sara Danils, dilansir dari nme.com.

Nobel di bidang sastra ini diberikan kepada orang yang yang telah berjasa serta memberikan kontribusi lebih pada dunia kesusastraan. Nama-nama seperti Alice Munro, Harold Pinter, Doris Lessing, JM Coetzee, Toni Morriso, hingga Seamus Heaney, telah memperoleh penghargaan tersebut. Di tahun 2015 lalu, peraih Nobel di bidang sastra ini adalah jurnalis asal Belarus, Svetlana Alexievich.

Sudah bertahun-tahun nama Dylan menjadi spekulasi mereka yang akan memenangkan hadiah Nobel ini. Bahkan sejumlah pengamat pernah memperkirakan pihak penyelenggara akan menambah genre baru untuk penghargaan tertinggi ini, seperti musik pop. Namun sejak pengumuman besar itu, Bob Dylan belum berkomentar apa pun.

Kontroversi Nobel Bob Dylan

Menjadi musisi peraih Nobel bidang sastra pertama sepanjang sejarah rupanya tak bisa diterima semua kalangan. Sejak nama Bob diumumkan, berbagai reaksi pun muncul dan penuh kontroversi.

Wajar saja, karena dilansir LA Times, sejak 1901, hadiah Nobel ini adalah pencapaian puncak bagi mereka yang bergelut di bidang sastra. Mereka yang pernah dianugerahi penghargaan ini adalah para novelis, penyair, dan penggubah sandiwara seperti Gabriel Garcia Marquez, Saul Bellow, Samuel Beckett, William Faulkner, dan Aleksandr Solzhenitsyn. Orang Amerika yang menerima penghargaan ini terakhir kali adalah Toni Morrison pada 1993.

Anna North, dari NY Times, lewat tulisannya yang berjudul Why Bob Dylan Shouldn't Have Gotten a Nobel, dengan tegas menyayangkan terpilihnya sang legenda untuk nobel kategori sastra. Anna mengatakan, Bob Dylan adalah sosok yang sangat pantas enerima penghargaan Grammy-nya selama ini, tapi tidak untuk Nobel sastra. Bob sosok musisi yang luar biasa, penyair kelas dunia yang sangat berpengaruh dalam budaya Amerika, khususnya.

"Tapi dengan memberi penghargaan ini padanya, (fakta bahwa) panitia Nobel memilih tidak memberikan penghargaan ini pada penulis adalah keputusan yang mengecewakan," kata North.

Sang jurnalis ini tak menampik Dylan merupakan seorang penyair lagu yang brilian. Ia bahkan sudah pernah menulis buku puisi dan autobiografinya. Namun apa yang ia tulis tak terpisahkan dari musiknya.

"Ia hebat karena ia adalah musisi yang luar biasa dan ketika panitia Nobel memberikan Nobel sastra pada musisi, itu berarti melewatkan kesempatan untuk memberi kehormatan pada penulis," ujarnya lagi.

Terpilihnya musisi 75 tahun ini, Kamis lalu, dinilai sebagai keputusan radikal sepanjang sejarah Nobel sastra sejak 1901. Memilih musisi populer untuk penghargaan tertinggi di bidang sastra membuat banyak pihak mempertanyakan lagi batas sastra Swedish Academy. Perdebatan pun terjadi soal apakah lirik lagu bisa memiliki nilai artistik yang sama dengan puisi dan novel. Banyak yang menganggap, menulis lirik lagu, seberapa pun briliannya, belum bisa mencapai level sastra.

Dilansir CBS News, penganugerahan Nobel sastra pada Bob Dylan juga ramai diperbincangkan di media sosial. Penulis asal Skotlandia, Irvine Welsh, mengatakan keputusan ini adalah sebuah kecerobohan yang membuatnya sakit.

"Jika kalian penggemar 'musik', cari (kata musik) itu di kamus. Lalu (cari) 'sastra', kemudian bandingkan dan bedakan," kata penulis Trainspotting yang juga mengaku fans Bob Dylan ini.

L’Osservatore Romano yang juga banyak menulis budaya pop ikut mengomentari penghargaan untuk Dylan tersebut. Ia mengatakan, keputusan penyelenggara Novel ini memang membuat banyak penulis sebenarnya kecewa. Padahal banyak pemenang lain yang potensial, seperti Don De Lillo, Philip Roth atau Haruki Murakami yang sudah memiliki berbagai novel atau tulisan yang mengagumkan.

Jodi Picoult, novelis yang karyanya selalu laris ini bahkan mencibir. Ia menulis, "Saya ikut senang atas (pencapaian) Bob Dylan. Apakah itu berarti saya bisa memenangkan Grammy?"

Namun terlepas dari sejumlah kritik yang datang, ucapan selamat mengalir untuk sang legendaris. Sejumlah penulis besar merayakan pencapaian tersebut, seperti Stephen King, Joyce Carol Oates, dan juga Salman Rushdie. Mereka menyebut Dylan adalah pewaris tradisi yang brilian dan menilai keputusan akademi keputusan yang keren.

William Bradley dari Huffington Post, menulis, meski ia bukan penggemar Bob Dylan, ia harus mengakui jika sang penyair merupakan sosok yang paling berpengaruh dalam bidang tulisan semasa hidupnya.

"Dylan benar-benar sudah membangkitkan pergerakan yang kuat untuk keadilan sosial dan kedamaian. Karyanya terus memberikan komentar tajam untuk Amerika dan juga hati manusia," tulisnya.

Penulis asal Inggris, Philip Pullman juga memberi ucapan selamat untuk Dylan. Ia bahkan mendukung Swedih Academy memperluas lingkup kategori penerima hadiah Nobel ke depannya.

"Bob Dylan adalah pilihan keren untuk hadiah Nobel. Satu hasil ini bisa saja membuka hadiah (penghargaan) lain untuk genre fiksi dan juga sastra pendek," katanya.

Barack Obama pun tak ketinggalan memberi ucapan selamat lewat akun Twitternya.

"Selamat untuk salah satu penyair terbaik saya, Bob Dylan, untuk Nobel yang pantas Anda terima ini," demikian kicauan Obama.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP