TUTUP
TUTUP
FOKUS

Menakar Potensi Menang Trump dan Hillary Setelah Debat

Tiga kali mereka berdebat. Hillary kian populer, Trump malah terpuruk.
Menakar Potensi Menang Trump dan Hillary Setelah Debat
Donald Trump dan Hillary Clinton, dalam debat Capres AS ketiga di Las Vegas, Rabu malam, 19 Oktober 2016. (REUTERS/Mike Blake)

VIVA.co.id – Pemilihan Presiden Amerika Serikat akan memasuki babak akhir. Kamis pagi, 20 Oktober 2016 WIB, atau Rabu malam waktu setempat, kedua kandidat kembali berada dalam satu panggung debat.

Usai acara, kandidat dari Partai Demokrat Hillary Clinton tersenyum lebar memamerkan barisan gigi putihnya. Sementara kandidat dari Partai Republik, Donald Trump, langsung menemui keluarganya. Namun, tak ada senyum lebar terkembang di wajah Trump, begitu juga pada anak dan istrinya.

Hillary boleh bertepuk dada. Usai debat kandidat terakhir, nyaris semua media massa di AS memberitakan kenaikan elektabilitas yang signifikan atas istri mantan Presiden Bill Clinton tersebut. Tercatat New York Times memberi skor 46 persen untuk Hillary dan 40 persen untuk Trump.

CNN malah memberi angka yang sangat tinggi, 53 persen untuk Clinton dan 39 persen untuk Trump. Sedangkan versi Financial Times, Clinton meraup 45,3 persen dan Trump hanya 39 persen, sedangkan di CBC News, Clinton mendapat 48,3 persen, sedangkan Trump hanya 41,4 persen. Sementara BBC, media yang berbasis di Inggris ini juga ikut menyampaikan paparannya dengan 47 persen untuk Clinton dan 43 persen untuk Trump. Deretan angka tersebut seperti menunjukkan, Hillary sudah jauh mengungguli Trump.

Pemilihan Presiden AS akan dilaksanakan dua pekan lagi. Namun suasana panas terus terasa. Pada debat kandidat pertama, perolehan suara antara Clinton dan Trump masih berimbang. Kedua kandidat hanya saling susul dengan selisih tiga poin. Namun masuk debat kandidat kedua, posisi Trump mulai goyah. Saat itu, hanya dua hari menjelang Debat Kandidat Kedua, Washington Post menayangkan video acara Access Hollywood yang direkam tahun 2005. Di acara tersebut Trump menjadi bintang tamu, sedangkan presenternya adalah Billy Bush, keponakan mantan Presiden AS George W. Bush, yang saat itu menjadi wartawan infotainment.

Di acara itu, Trump mengeluarkan ucapan tak senonoh. Kepada Billy, Trump mengatakan, ia bisa melakukan apa saja pada perempuan, karena ia adalah orang terkenal. "Bahkan jika anda ingin meraba bagian sensitifnya, itu bisa dilakukan, jika anda adalah orang terkenal," ujar Trump, dalam video tersebut. Beberapa jam setelah video beredar luas, Trump meminta maaf. Namun itu tak mengubah apapun. Sejumlah petinggi Partai Republik marah dan mengecamnya.

Diberitakan oleh VOA, Ketua DPR AS Paul Ryan mengaku muak mendengar pembicaraan tersebut. Petinggi Partai Republik lainnya John Mc Cain, Senator Arizona yang juga mantan Capres AS tahun 2008 dengan tegas mengatakan, "Trump akan menanggung konsekuensi tindakannya." Ucapan keras lainnya datang dari Mitt Romney, Capres AS tahun 2012, "Trump tidak saja merendahkan istri dan anak perempuan kita. Namun juga menjatuhkan citra AS di mata dunia."

Kisah ini berbuntut panjang. Satu per satu perempuan yang mengaku pernah dilecehkan oleh Trump tampil ke hadapan publik dan memberikan kesaksian. Namun alih-alih melunak, Trump balik menyerang perempuan-perempuan tersebut. Bahkan di acara Debat Kandidat Kedua, pada 9 Oktober 2016, Trump tetap mengatakan bahwa perempuan-perempuan itu telah memberi kesaksian palsu untuk menjatuhkannya. "Percayalah pada saya, mereka bukan perempuan pilihan saya," ujarnya seperti dikutip dari VOA, 11 Oktober 2016.

Dan kasus pelecehan perempuan ini ternyata memberi pengaruh besar pada elektabilitas Trump. Hanya dua hari setelah kasus ini mencuat, VOA memberitakan, survey yang dilakukan oleh Washington Post-ABC menunjukkan Clinton unggul sembilan persen dikalangan pemilih perempuan, sementara survey yang dilakukan oleh NBC-Wall Street Journal bahkan menunjukkan Clinton unggul 20 persen di kalangan pemilih perempuan.

Drama selanjutnya masih terjadi. Trump marah karena petinggi Partai Republik meninggalkannya. Media AS yang terus memberitakan kasus pelecehan dan melemahnya dukungan perempuan pada Trump tak membuat Trump surut. Trump meradang dan kembali melempar tudingan. Pertandingan belum dimulai, namun Trump sudah mengobarkan kalimat bahwa jika ia kalah dalam pemilu, maka itu terjadi karena ia dicurangi. "Tim kampanye Clinton pasti melakukan kecurangan untuk mencegah saya menang  pemilu," ujar Trump seperti diberitakan oleh BBC, 18 Oktober 2016.

Ucapan Trump membuat Obama berang. Seperti diberitakan oleh BBC, 19 Oktober 2016, hanya beberapa jam sebelum Debat Kandidat Ketiga dilaksanakan, Presiden AS itu mengatakan, tudingan Trump bahwa Pemilu AS akan dicurangi tak berdasarkan fakta. "Jika Anda terus mengatakan bahwa pemilu dicurangi, itu sudah menunjukkan Anda tak memiliki kepemimpinan dan kekuatan, yang dibutuhkan untuk menjadi Presiden Amerika Serikat," ujar Obama. Presiden AS itu juga meminta Trump berhenti merengek dan menyalahkan pihak lain, karena sikap itu tak akan memberinya kemenangan.

Calon wakil presiden dari Partai Demokrat yang juga Senator Virginia Tim Kaine, juga mencemooh tuduhan Trump. Ia mengatakan, sikap Trump yang selalu menyalahkan media, menyalahkan Partai Republik, dan menuding negaranya tak mampu melakukan Pemilu dilakukan karena Trump tahu ia akan kalah. "Ia mengumbar imajinasinya karena tahu ia akan kalah," ujar Kaine.

Berbeda dengan Trump yang terus menerus menjadi pemberitaan media. Hillary Clinton tak banyak menuai kontroversi. Kasus penggunaan email pribadi Hillary saat ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS tak sesemarak pemberitaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Trump. Bahkan saat Hillary terpaksa beristirahat kampanye karena dugaan pneumonia, juga tak mendapat porsi terlalu besar. Hillary melaju mulus ke Debat Kandidat Ketiga, tanpa hiruk pikuk berlebih. Berbeda dengan Trump yang masuk panggung dengan serangkaian berita yang penuh kontroversi.

Keras Kepala

Sikap keras kepala Trump kembali muncul saat Debat Kandidat Ketiga pagi tadi. Saat moderator bertanya apakah ia akan menerima hasil pemilu, Trump menjawab, ia meragukan, dan tak mau komit pada hasil pemilu. "Saya akan membuat Anda terus merasa tegang," ujarnya pada Hillary. Ucapan itu dibalas Hillary sebagai jawaban yang "mengerikan." "Ia sedang merendahkan demokrasi kita," ujar Hillary seperti dikutip dari BBC, 20 Oktober 2016.

Jawaban Trump soal penolakannya terhadap hasil pemilu ternyata menjadi perhatian media AS. Ucapan Trump yang tetap bersikukuh bahwa ia akan meragukan hasil pemilu jika Hillary menang menjadi berita utama di media-media AS. "Jawaban 'meragukan hasil pemilu' sudah menjatuhkan Trump sejak sekarang, hingga pemilihan nanti," tulis Foxnews.

Bahkan Breitbart News, media yang selama ini menjadi pendukung kuat Trump menyatakan, jawaban Trump itu telah gagal membalikkan keadaan. Breitbart, seperti dikutip dari BBC, 20 Oktober 2016, menuliskan paska debat, Hillary menggungguli Trump dengan perolehan skor 58 persen, sedangkan Trump 41 persen.

Pemilu AS masih tiga pekan lagi. Namun gejolaknya bisa jadi masih terus terjadi. Tiga minggu ke depan, masih ada kemungkinan yang bisa membalikkan keadaan. Meski saat ini, diatas kertas, dan berkat dukungan media Hillary berpotensi menang, namun kubu Trump masih memiliki waktu untuk membalikkan keadaan.

 

(ren)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP