TUTUP
TUTUP
FOKUS

Vaksin Beredar, Indonesia Bebas Demam Berdarah?

Harganya tergolong mahal, Rp 1 juta.
Vaksin Beredar,  Indonesia Bebas Demam Berdarah?
Pengembangan vaksin untuk Virus Zika. (REUTERS/Mike Segar)

VIVA.co.id – Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi penyakit ancaman besar bagi masyarakat Indonesia dan dunia. Sepanjang sejarah penemuan, vaksin DBD belum ditemukan. Ini menjadi penantian panjang masyarakat, terutama penduduk tinggal di daerah endemik dengue.

Menurut data World Health Organization (WHO) jumlah penderita ini meningkat hingga 400 juta setiap tahunnya dan mengakibatkan kematian hingga 20 ribu jiwa setiap tahun.

Laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga April 2016, mencatat lebih dari 80 ribu kasus DBD atau melonjak 39 persen dari 2015.

Diketahui, Indonesia juga menanggung beban dengue tertinggi di dunia dengan biaya lebih dari 323 juta US dolar atau Rp 4,2 triliun per tahun.

Selama ini belum ada vaksin yang lolos uji sepenuhnya untuk mencegah dengue, begitu juga pengobatan secara khusus untuk membasmi virus dengue. Orang yang mengalami DBD hanya menjalani pengobatan secara suportif yaitu sebatas menangani gejala demi gejala, seperti menurunkan demam, istirahat total, serta meningkatkan asupan cairan. Karena itu, keberadaan vaksin dengue bisa menjadi solusi bagi masalah kesehatan global.

Vaksin anti demam berdarah pertama

Beberapa tahun belakangan penelitian mengenai DBD kembali digiatkan dan berujung pada penemuan vaksin DBD pertama di dunia. Kini, vaksin tersebut sudah masuk ke Indonesia.

Pendiri Rumah Vaksin, dr. Piprim Basarah Yanuarso, MD., menjelaskan bahwa vaksin dengan nama Dengvaxia ini merupakan vaksin yang diproduksi Sanofi Pasteur, perusahaan obat asal Prancis.

“Uji klinis pertama vaksin ini dilakukan di Meksiko dan pada 9 Desember 2015, Meksiko menyetujui penggunaan vaksin ini,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 19 Oktober 2016.

Piprim menambahkan, Indonesia adalah negara kedua di Asia dan ketujuh di dunia yang mengizinkan pemakaian vaksin tersebut. Negara lain adalah Meksiko, Brasil, El Salvador, Kosta Rika, Filipina, dan Paraguay.

Belum lama ini vaksin DBD resmi beredar dan sudah bisa didapatkan di Rumah Vaksin, di dokter-dokter anak serta rumah sakit di beberapa daerah di Indonesia.

Sementara itu diketahui, vaksin ini efektif digunakan pada anak usia 9 tahun hingga usia dewasa 45 tahun. Namun sayangnya, di Indonesia lisensi penggunaannya dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru tersedia untuk usia 9-15 tahun.

Vaksinolog dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc-VPCD, mengatakan bahwa vaksin DBD ini efektif untuk pasien usia dewasa, dan justru kurang efektif pada pasien anak usia balita.

"Berdasarkan studi atau uji klinis yang sudah ada, vaksin ini efektif untuk beberapa kelompok usia. Efektivitas terbaik didapatkan pada kelompok usia 9-45 tahun. Namun, pada usia dibawah 9 tahun efektivitasnya justru terbilang rendah," ujar dokter lulusan University of Sienna, Italia, ini saat dihubungi VIVA.co.id pada Kamis 20 Oktober 2016.

Pembuatan lisensi dari BPOM diakui Dirga membutuhkan data tambahan, dan tentunya membutuhkan waktu.

"Lisensi penggunaan vaksin dengue di Indonesia saat ini baru tersedia untuk usia 9-15 tahun. Sedangkan untuk usia 15-45 tahun, diperlukan data tambahan. Namun saya yakin, ke depan BPOM juga akan mengeluarkan lisensi untuk usia lainnya," kata dia.

Efektifitas vaksin DBD

Seperti yang kita ketahui bahwa virus dengue ini memiliki banyak jenis, selain itu kondisi daerah endemik dengue memiliki serotipe (jenis zat atau virus) yang berbeda. Terdapat empat serotipe virus dengue di Indonesia, yakni Den-1, Den-2, Den-3 dan Den-4, sehingga membuat kasus demam dengue dapat terjadi bergantian sepanjang tahun. Karena itu, efektifkah vaksin buatan Perancis ini jika digunakan di Indonesia?

Berdasarkan uji klinis di 10 negara Asia dan Amerika latin (termasuk Indonesia), dr Dirga Rambe mengatakan bahwa vaksin yang telah beredar di beberapa kota di Indonesia ini terbukti aman dan efektif hingga 90 persen.

"Berdasarkan studi, efektivitas vaksin ini dapat dinilai menggunakan tiga indikator yaitu mencegah dengue bergejala, mencegah perawatan di rumah sakit, dan mencegah dengue berat," ujarnya.

Untuk kelompok yang menunjukkan gejala pada penyakit tersebut, efektivitasnya sebesar 65,6 persen. Sedangkan angka lebih tinggi, berada pada kedua cara lainnya yakni untuk cegah perawatan di RS akibat dengue sebesar 80,8 persen dan mencegah infeksi dengue berat sebesar 92,9 persen.

Vaksin tersebut diberikan untuk tiga kali suntikan dengan jarak waktu enam bulan. Setiap suntikan mengandung vaksin untuk semua tipe virus dengue, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Selain itu, mereka yang sudah pernah kena demam berdarah, tetap dapat divaksinasi.

"Vaksin ini dikembangkan selama 20 tahun dengan berbagai pertimbangan seperti keamanan dan keefektifannya. Jadi semoga saja, vaksin ini bisa menyebar ke seluruh Indonesia sehingga bisa menjadi terobosan baru agar Indonesia bebas DBD. ” ujarnya.

Belum didukung pemerintah

Meskipun efektif dan mampu mengatasi masalah kesehatan global, namun harga vaksin dengue ini masih terbilang mahal. Vaksin ini dilakukan sebanyak tiga kali dengan interval enam bulan untuk setiap vaksin. Satu kali vaksinasi menelan biaya sebesar Rp 1 juta-an.

"Memang mahal. Karena vaksin baru masih impor dan bukan produk dalam negeri. Ketentuan dari rumah sakit pasti beda-beda, jadi saya perkirakan range harganya Rp 1-1,4 juta. Tapi, untuk harga vaksinnya saja, hanya Rp 1 juta. Di rumah sakit, perbedaan harga itu pasti dengan perhitungan lain seperti administrasi dan jasa dokter misalnya," ujarnya.

Selain itu, Dirga menambahkan bahwa vaksin ini belum masuk program pemerintah dan masih ditujukan bagi penggunaan personal karena belum masuk program imunisasi nasional, seperti hepatitis, polio, campak, dan HIV, sehingga belum dapat ditemukan di puskesmas.

Menanggapi hal itu, Kemenkes menyatakan bahwa vaksin DBD lokal sampai saat ini masih dikaji karena masih banyaknya jenis demam berdarah yang beredar.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, dr H Mohammad Subuh menjelaskan, Indonesia hingga kini masih mengkaji lagi vaksin tersebut.

"Tentu ada uji klinis yang harus dilakukan, terutama uji tingkat tiga kepada masyarakat. Sehingga uji klinis ini memang dilakukan di kalangan masyarakat," kata Subuh di Kementerian Kesehatan, beberapa waktu lalu.

Subuh menambahkan bahwa vaksin tersebut harus efektif dan cocok untuk pasien di Indonesia. Jenis dari virus DBD, dikatakannya, ada empat macam, yakni DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Indonesia ingin menggunakan keempat macam ini. Sementara Meksiko hanya menggunakan DEN 1, DEN 2 dan DEN 3.

Sementara itu, Subuh mengungkapkan bahwa Kemenkes memiliki target tersendiri mengenai virus dengue tersebut.

"Kita punya target vaksin ini akan rampung dalam kurun waktu satu tahun lagi. Jika sudah ada, akan dimasukkan dalam program vaksin wajib untuk anak-anak. Target kita 2017 sudah diterapkan terus 2018 sudah mulai," jelas Subuh.

Diketahui, vaksin dengue telah mulai dikembangkan sejak era 1940-an dan baru mengalami perkembangan pesat pada satu dekade terakhir. Pengembangan ini telah mendatangkan beberapa penemuan menjanjikan yang diharapkan dapat mengurangi kasus DBD, terutama di negara-negara endemi, seperti Indonesia.

Umumnya sebuah vaksin baru dapat resmi digunakan setelah bertahun-tahun melalui empat tahap: satu tahap praklinis dan tiga tahap uji klinis untuk membuktikan keefektifan dan keamanannya.

Tantangan yang dihadapi adalah karena DBD dapat disebabkan oleh empat jenis virus berbeda (DEN1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4), maka diperlukan vaksin yang dapat secara efektif mencegah infeksi keempat tipe tersebut, atau disebut vaksin tetravalen.

Sejauh ini WHO mencatat sebuah vaksin tetravalen produksi Sanofi-Pasteur yang layak untuk menjalani tahap uji klinis ketiga atau terakhir. Ini berarti bahwa vaksin tersebut telah terbukti dapat membangkitkan kekebalan yang melindungi tubuh dari virus dengue dengan efek samping minimal.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP