TUTUP
TUTUP
FOKUS

Melindungi Pelaut Indonesia dari Lanun

Perompak Somalia baru saja membebaskan 28 sandera, termasuk WNI.
Melindungi Pelaut Indonesia dari Lanun
Empat WNI sandera perompak Somalia yang dibebaskan. (REUTERS/Siegfried Modola)

VIVA.co.id – Sabtu siang, 22 Oktober 2016. Waktu menunjukkan pukul 13.00 waktu setempat. Pesawat jet komersial berlogo Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendarat di Bandar Udara Internasional Jomo Kenyatta, dahulu bernama Bandar Udara Internasional Nairobi, Kenya.

Di dalam pesawat berwarna putih itu keluar puluhan orang dengan perawakan kurus dan muka lusuh. Ketika menginjakkan kakinya di bandara, sontak wajah mereka berubah haru, dipenuhi tangis dan senyum bahagia.

Kelegaan dan kegembiraan terpapar jelas di wajahnya. Mereka saling memeluk, air mata pun membuncah tidak mampu ditahan. Siapakah mereka?

Mereka adalah 26 anak buah kapal (ABK) yang baru saja dibebaskan oleh perompak Somalia. Kedua puluh enam ini berasal dari Indonesia, Filipina, Kamboja, Taiwan, China dan Vietnam.

Seluruh ABK ini telah disandera selama 4,5 tahun di Somalia, atau tepatnya 26 Maret 2012. Mereka bekerja di kapal ikan Naham 3, milik Taiwan namun dioperasikan oleh Oman.

Dari 26 ABK ini, terselip empat orang berkewarganegaraan Indonesia. Keempatnya antara lain Sudirman (24) dan Adi Manurung (24), kedua berasal dari Medan, Sumatera Utara. Lalu, Elson Pesireron (32) asal Ambon, Maluku serta Supardi (34) dari Cirebon, Jawa Barat.

Kabar bebasnya empat ABK WNI ini tentu membuat pemerintah Indonesia girang. Sebab, upaya pembebasan ini telah dilakukan sejak dua tahun terakhir.

Tak hanya itu, pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri, terus melakukan koordinasi dengan pihak keluarga secara rutin. Terlebih, pemerintah seakan tak menyerah dengan berbagai tantangan yang dihadapi selama proses pembebasan.

Ihwal pembebasan ini ketika pada Januari 2015, di mana Presiden Joko Widodo memerintahkan Kemenlu dan Badan Intelijen Negara (BIN) agar mengintensifkan hal tersebut.

"Keselamatan para sandera menjadi prioritas. Pembebasan berhasil dilakukan setelah melalui proses yang sangat panjang," kata Menteri Luar Negeri, Retno Priansari Marsudi, di Gedung Kemlu, Jakarta, Senin pagi, 24 Oktober 2016.

Kronologi

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Belanda ini lalu bercerita mengenai proses pembebasan empat WNI. Awalnya, jumlah ABK yang diculik sebanyak 29 orang.

Mereka disergap para perompak di perairan Syechelles, yang jaraknya sekitar 114 kilometer dari Pulau Syechelles, Samudera Hindia, pada 26 Maret 2012.

Akan tetapi, sang kapten kapal tewas di tempat saat pembajakan. Sehingga, jumlah awak menjadi 28 ABK.

"Setelah ditangkap, mereka kemudian dibawa ke tempat penahanan pertama di Hobyo, sebuah kota kecil di Somalia yang jaraknya sekitar 511 kilometer dari ibu kota Mogadishu," tuturnya.

Ia melanjutkan, Hobyo bukanlah pemberhentian terakhir. Sebab, Mereka lalu dibawa ke Bud Bud, 287 kilometer Mogadishu.

Tidak diketahui berapa lama waktu yang dibutuhkan selama penahanan dan proses pemindahan seluruh sandera tersebut. Namun, pada 2014, lagi-lagi dua lainnya ABK tewas karena sakit.

Ia juga memastikan bahwa satu orang ABK adalah warga negara Indonesia bernama Nasirin asal Cirebon, Jawa Barat. Ia meninggal dunia lantaran terkena malaria.

"Sejak dari Bud Bud proses pembebasan dimulai. Singkat cerita, setelah dibebaskan, mereka kemudian dibawa menggunakan mobil ke Galkayo Town sekitar 689 kilometer dari Mogadishu, ke tempat persembunyian (safe house),” papar dia.

Dari situlah, lanjut perempuan berkacamata, mereka diterbangkan ke Bandar Udara Wajir, untuk diterbangkan kembali ke Nairobi dengan menggunakan pesawat PBB.

Empat WNI Sandera Perompak Somalia yang Dibebaskan

Wajah bahagia para ABK setelah bebas dari sandera perompak Somalia (Reuters.com).

Saat ini, ungkap Menlu Retno, Duta Besar Indonesia untuk Kenya, Soehardjono Sastromihardjo bersama Tim Kemenlu pimpinan Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal, sedang berada di Nairobi untuk menjemput empat WNI.

"Saya sudah berbicara dengan Sudirman. Itu sekitar pukul 21.45 waktu setempat, atau 15 menit setelah tiba di Nairobi. Saya pastikan kondisinya sehat. Mulai sekarang sampai beberapa hari ke depan, mereka akan diperiksa kesehatannya untuk memastikan pemulihan, sebelum dipulangkan ke Indonesia," ujar dia.

Kendati demikian, Kemlu menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak pernah membayar uang tebusan dalam upaya pembebasan empat WNI.

Melalui Juru Bicara Arrmanatha Nassir, pihaknya juga menegaskan upaya pembebasan dilakukan melalui perundingan dan negosiasi panjang.

"Tujuan penyanderaan memang untuk minta tebusan. Tapi (bayar tebusan) bukan kebijakan kita. Kami tidak pernah membayar tebusan pada pembajak," tegas Arrmanatha.

Mengutip situs Theguardian, seluruh sandera yang berjumlah 26 ABK ini bebas lantaran membayar uang tebusan.

Para mediator internasional mengungkapkan, hal tersebut merupakan akhir dari penyanderaan selama puncak pembajakan Somalia yang berlangsung selama empat tahun.

Salah satu pembajak, Bile Husein, mengaku bahwa mereka telah menerima uang tebusan sebesar US$1,5 juta (sekitar Rp19,56 miliar). Namun, klaim tersebut belum dapat diketahui kebenarannya.

Bukan kali pertama

Ini bukan kali pertama WNI diculik oleh para lanun (perompak/bajak laut). Berdasarkan data, pada 11 Januari 2016, dua ABK yang sempat disandera di Somalia, berhasil dibebaskan.

Kedua WNI itu bernama Maulir Henry Pattikawa, asal Ambon, kelahiran 1972, dan Azis Hermanus, dari Kendari, kelahiran 1959.
 
Henri dan Azis adalah bagian dari 12 WNI yang bekerja di kapal milik Korea Selatan berbendera Oman bernama Al-Amal.

Kapal tersebut karam di Somalia pada Agustus 2015. Sebelumnya, 10 orang WNI yang juga berada di kapal ikan itu telah dibebaskan.

Kedua WNI itu berhasil dibebaskan pada 31 Desember 2015, dan setelah selesai urusan  administrasi pada 9 Januari 2016, mereka langsung diterbangkan ke Nairobi, untuk diterbangkan kembali ke Tanah Air.

Pemerintah mengaku upaya pembebasan dilakukan melalui perundingan dan negosiasi panjang. Selain itu, mundur lima tahun ke belakang, tepatnya 16 Maret 2011.

Ketika kapal MV Sinar Kudus yang dioperasikan PT Samudera Indonesia Tbk dibajak di perairan Laut Arab. Kapal itu bermuatan ferro nikel yang berlayar dari Sulawesi menuju Rotterdam, Belanda.

Ilustrasi/Penanganan para perompak kapal

Pasukan Denjaka Marinir sukses menyelamatkan kapal MV Sinar kudus (Dokumen/Istimewa).

Kronologinya sebagai berikut:

16 Maret 2011
KM Sinar Kudus dibajak pada posisi 13.37,78 N/59.03,88E. Kapal itu kemudian oleh perompak Somalia dijadikan mother ship untuk beroperasi hingga ke utara sampai ke teluk Oman.

17 Maret 2011
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima laporan terkait penyanderaan WNI oleh perompak Somalia.

18 Maret 2011
Presiden SBY memberikan arahan operasi untuk pembebasan sandera yang memutuskan:

1. Membebaskan kapal dengan operasi khusus bila kapal sedang di laut,

2. Menyiapkan rencana cadangan bila kapal telah lego jangkar, dengan mempelajari dan mempertimbangkan perkembangan situasi terakhir,

3. Mengirim dua kapal fregat dan pasukan khusus.

19 Maret 2011
Menerima persetujuan Presiden SBY tentang kekuatan yang akan dilibatkan. Kekuatan itu terdiri dari dua KRI, satu helikopter, pasukan khusus (Denjaka dan Kopaska Marinir, Gultor Kopassus, serta Tontaipur Kostrad).

23 Maret 2011
Dua KRI dan satu helikopter berangkat dari Jakarta menuju Kolombo, Srilanka. Perjalanan memakan waktu enam hari.

30 Maret 2011
Berangkat dari Kolombo menuju perairan Somalia. Info terakhir, KM Sinar Kudus telah lego jangkar di perairan Somalia.

Namun, ada kemungkinan masih akan digunakan sebagai induk kapal (mother ship).

12 April 2011
Satuan tugas sudah siap kembali untuk antisipasi KM Sinar Kudus berlayar kembali.

13 April 2011
Negosiasi ada titik terang. Rencana pembebasan disesuaikan, yaitu:

1. Pelaksanaan pemberian tebusan harus dipastikan dapat menjamin keselamatan ABK Sinar Kudus,

2. Pada saat pelepasan akan dilaksanakan tindakan militer terhadap pembajak.

27 April 2011
Presiden SBY memimpin rapat khusus dengan keputusan:

1. Bebaskan dan selamatkan seluruh ABK,

2. Tindakan aksi militer terhadap elemen perompak,

3. Mengawal KM Sinar Kudus ke Oman.

28-30 April 2011
Rencana dropping uang tebusan dengan pesawat komersil yang disewa manajemen Samudera Indonesia, batal.

Lalu, akhirnya dropping uang jadi dilaksanakan. Penghitungan uang tebusan oleh perompak dan pembagian uang tebusan

1 Mei 2011
Aksi militer:

1. Empat pembajak yang terakhir turun dari KM Sinar Kudus dilumpuhkan, namun 4 perompak tewas dan tercebur laut,

2. Dilaksanakan sterilisasi terhadap kemungkinan masih ada pembajak di kapal dan bahan peledak hingga kapal aman,

3. Kapal KM Sinar Kudus di kawal ke Oman oleh dua KRI,

4. Pada 4 Mei 2011, KM Sinar Kudus dan satgas tiba di Salalah Oman, untuk kemudian bertolak ke Tanah Air.

Aksi perompak Somalia menjadi mimpi buruk aktivitas maritim dunia. Mereka kerap meminta uang tebusan untuk setiap kapal yang dibajak. Tentu saja, hal ini berimbas pada menurunnya pendapatan dari sektor pariwisata di negara-negara sekitarnya.(umi)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP