TUTUP
TUTUP
FOKUS

Titik Balik Samsung

Samsung sudah menyiapkan Galaxy S8 untuk membuka 2017.
Titik Balik Samsung
CEO Samsung Electronics Co, Kwon Oh-hyun (Reuters/Seongjoon Cho/Pool)

VIVA.co.id – Samsung mengakui belajar banyak dari krisis Galaxy Note 7. Episode itu memang meruntuhkan rencana Samsung untuk makin berjaya dalam persaingan smartphone. 

Badai Galaxy Note 7 memang merusak pesta Samsung. Krisis itu membuat perusahaan Korea Selatan itu harus kehilangan potensi keuntungan 7,8 triliun won, yang seharusnya didapat jika tak ada krisis tersebut. 

Krisis itu berdampak pada kinerja keuangan. Laba kuartalan perusahaan menjadi paling jeblok selama sembilan tahun terakhir ini.

Tercatat, pada kuartal ketiga ini pendapatan Samsung terjun signifikan menjadi 100 miliar won atau US$87,6 juta saja dibanding raihan tahun sebelumnya, yang sempat menyentuh US$2,1 miliar. Pencapaian itu tercatat merupakan level terendah sejak kuartal keempat 2008. 

Beban Samsung atas krisis itu bukan hanya soal kerugian dalam bentuk asumsi angka. Tapi, yang lebih penting yaitu bisa menggerus kepercayaan konsumen atas kualitas produk Samsung. 

Tak ingin terlalu larut dalam krisis, Samsung sudah melemparkan optimismenya bisa bangkit pada kuartal penutupan tahun ini, atau paling buruk, Samsung menargetkan sudah bisa berkibar lagi pada awal 2017. 

"Kami menanti kuartal keempat. Perusahaan mengharapkan laba meningkat dari tahun sebelumnya yang didorong kinerja kuat dalam bisnis komponen," ujar manajemen Samsung dalam pernyataannya dikutip Fortune.

Samsung mengatakan, untuk kembali mendapatkan laba, perusahaan mengandalkan bisnis mobile mereka. Meski baru diterpa krisis, divisi ini diharapkan memulihkan laba perusahaan setara dengan laba pada kuartal keempat 2015. 

Keyakinan Samsung bakal lulus dari krisis ini disampaikan juga oleh Chief Executive Officer Samsung Electronics Co Ltd, Kwon Oh-hyun, dalam pertemuan luar biasa Samsung dengan pemegang saham di Gedung Seocho, Korea Selatan, pekan lalu. 

Kwon menegaskan, Samsung punya modal melalui krisis. Untuk itu, dia meminta kepada semua karyawan agar merenungi apa yang sudah diberikan kepada perusahaan dan menjadikan krisis Galaxy Note 7 sebagai titik balik perusahaan. 

"Kami memiliki sejarah panjang mengatasi krisis. Mari menjadikan krisis ini sebagai peluang untuk melahirkan lompatan lain dengan memeriksa ulang dan benar-benar meningkatkan apa yang kami kerjakan. Bagaimana kami berpikir tentang inovasi dan perspektif kepada pelanggan," ujar Kwon. 

Dua ‘Juru Selamat’

Selepas krisis Galaxy Note 7, Samsung kini sedang fokus untuk mempersiapkan perangkat barunya, Galaxy S8 yang bakal diluncurkan awal tahun depan. Sementara itu, untuk mengisi sampai akhir tahun ini, Samsung menggantikan Galaxy Note 7 dengan Galaxy S7 Edge. 

Kabar Samsung akan menutup tahun ini dengan Galaxy S7 Edge sudah santer. Terlebih setelah perusahaan sudah menyetop produksi dan distribusi Galaxy Note 7. Perusahaan asal Korea Selatan itu akan menawarkan lini Galaxy S7 Edge terbaru di pasar global.

Diberitakan Tech Times, Samsung akan menawarkan pilihan warna blue coral pada Galaxy S7 Edge mereka nantinya. Warna tersebut paling laris yang pernah mereka rasakan pada Galaxy Note 7 lalu.

Samsung mengatakan, akibat larisnya warna blue coral ini, Samsung sampai harus terlambat menyediakan smartphone dengan pilihan warna favorit itu.

Untuk spesifikasinya, beredar rumor kalau Galaxy S7 Edge akan berjalan di sistem operasi Android 6.0 Marshmallow, tetapi bisa diperbarui ke sistem operasi yang paling baru, yaitu Android 7.0 Nougat.

Galaxy S7 Edge akan dilengkapi prosesor dari Qualcomm Snapdragon 820, Adreno 530 GPU, RAM 4 GB. Untuk penyimpanan internal, Samsung menawarkan dua opsi, 32 GB dan 64 GB. Pengguna dapat menambah kapasitasnya dengan memori eksternal hingga 256 GB.

Mengenai baterainya, Samsung akan melengkapi Galaxy S7 Edge versi terbaru ini dengan kapasitas 3600 mAh, dan diklaim bisa digunakan selama 27 jam dalam keadaan bicara serta dilengkapi Quick Charge.

Soal ketersediaannya, Samsung merilis Galaxy S7 Edge versi blue coral ini akan hadir di Taiwan dan Singapura pada November 2016. Galaxy S7 Edge dirasa Samsung bisa menjadi “penawar” kecewa pengguna sekaligus untuk menutup tahun ini tanpa kekosongan usai penyetopan Galaxy Note 7.

Guna mendukung langkah titik baliknya, Samsung sudah menyiapkan Galaxy S8 untuk membuka 2017. 

Laman Tech Crunch menuliskan, Vice President Samsung Electronics Co Ltd, Lee Kyeong-tae mengonfirmasi Galaxy S8 akan menjadi andalan perusahaan pada awal tahun depan. Lee menuturkan, Galaxy S8 akan memiliki desain baru, kamera yang lebih baik dan dengan layanan kecerdasan buatan yang ditingkatkan. 

Galaxy S8 akan dibekali dengan prosesor Snapdragon 830 Qualcomm atau pun prosesor Exynos 8995 Samsung. Sementara itu, untuk layarnya akan hadir dengan 4K dan gaya lengkung di sisi sampingnya, mirip dengan gaya Galaxy S7 Edge dan Galaxy Note 7. 

Bocoran lainnya menunjukkan, layar Galaxy S8 kemungkinan akan hadir dengan layar OLED full screen. Peneliti Samsung Display, Park Won-sang mengungkapkan, smartphone andalan Samsung pada tahun depan dengan layar OLED full screen hadir 5,5 inchi.

Meskipun Park tidak menyebutkan langsung fitur tersebut pada Galaxy S8, tapi spekulasi berkembang fitur tersebut bakal hadir dalam Galaxy S8.  

Bicara soal full screen, Galaxy S8 punya kualitas menampilkan rasio lebih baik dibanding Galaxy S7 dan Galaxy S7 Edge. Jika rasio layar dan bodi Galaxy S7 dan Galaxy S7 Edge masing-masing adalah 72 persen dan 76 persen, maka layar pada Galaxy S8 disebutkan mencapai 90 persen. 

Istimewanya, Galaxy S8 kabarnya dilengkapi juga dengan teknologi virtual reality. Dengan bekal layar 4K, maka cocok bila Samsung nantinya akan memadukannya dengan teknologi virtual reality. 

Guna menarik minat dan “mengikat” pengguna agar tetap memilih perangkat Galaxy S8, Samsung menjanjikan diskon khusus untuk Galaxy S8 bagi pengguna yang loyal. Kabar yang beredar, diskonnya mencapai 50 persen. Barangkali tawaran itu membuat pengguna untuk memikirkan ulang berpindah ke lain hati. 

Kunci Penting

Langkah Samsung untuk bangkit dari krisis mendapat sorotan dari lembaga analis LA Asset Management. Manajer Pendanaan LA Asset Management, Kim Sung-soo mengatakan, kunci kebangkitan Samsung dari krisis yaitu sejauh mana bisa memastikan tentang problem dan biang dari krisis Galaxy Note 7. 

"Kuncinya adalah apakah Samsung akan mampu menghapus ketidakpastian sekitar Note 7 dan mengelola posisi Samsung dalam pasar smartphone," ujar Kim Sung dikutip dari Fortune

Apa yang disoroti Kim Sung itu bisa jadi ada benarnya. Sebab, hingga saat ini Samsung belum membuka biang dan penyebab krisis Galaxy Note 7. Samsung belum tahu apa yang menyebabkan insiden kebakaran pada perangkatnya Galaxy Note 7 yang sudah dilabeli aman. 

President Samsung Electronics Co Ltd, JK Shin, pekan lalu menegaskan, perusahaan sedang bekerja dengan regulator dan ahli pihak ketiga untuk mendiagnosis problem Galaxy Note 7. 

JK Shin mengungkapkan, lebih dari 300 insiden Galaxy Note 7 yang masuk ke Samsung, dengan sebagian besar disebabkan masalah baterai. 

"Samsung berhati-hati dalam meninjau kembali tiap aspek perangkat mulai dari hardware, software sampai proses produksi, yang mungkin menyebabkan insiden itu," ujar JK Shin dikutip dari New York Times. 

Samsung tampaknya harus berkejaran dengan waktu. Sebab, sebelumnya divisi pemasok baterai Samsung, yaitu Samsung SDI mengatakan hasil investigasi krisis Galaxy Note 7 kemungkinan akan keluar pada akhir tahun ini. Sementara itu, Galaxy S8 direncanakan hadir pada Februari 2017.

Samsung menyadari, untuk mencapai titik balik, jalan yang harus dilalui tak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk itu, Samsung menegaskan siap mengerahkan segala sumber daya dan bekerja keras. 

"Kami tahu harus bekerja keras untuk mendapatkan kembali kepercayaan. Dan kami berkomitmen untuk melakukan hal itu," tutur JK Shin.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP