TUTUP
TUTUP
FOKUS

Timnas di Piala AFF, bak Garuda Terikat Rantai

Masalah demi masalah dihadapi Timnas Indonesia selama persiapan.
Timnas di Piala AFF, bak Garuda Terikat Rantai
Pemain Timnas Indonesia jelang Piala AFF 2016 (PSSI.org)

VIVA.co.id – Dahaga para pencinta sepakbola nasional sebentar lagi akan terbayar. Tim nasional Indonesia akan kembali tampil pada ajang internasional di Piala AFF 2016. Harapan menjadi juara dikekang oleh berbagai masalah.

Kisruh antara PSSI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) akhirnya berbuah jatuhnya sanksi FIFA selama satu tahun belakangan. Imbas dari keegoisan para elite berdampak pada dibekukannya Timnas Indonesia dari ajang internasional. Kualifikasi Piala Dunia 2018 harus lewat begitu saja, sang "Garuda Terkucilkan".

Satu tahun berlalu, sanksi FIFA akhirnya dicabut juga Mei lalu. Timnas bisa bernapas lega karena mendapat lampu hijau untuk tampil di Piala AFF pada akhir 2016. Berbagai persiapan langsung dikebut.

Alfred Riedl dikembalikan ke posisinya sebagai pelatih kepala. Seleksi pemain pun dilakukan dari seluruh laga Torabika Soccer Championship (TSC).

Ternyata, kembalinya Indonesia ke turnamen paling bergengsi di Asia Tenggara tersebut tidak mudah. Masuk dalam Grup B, lawan-lawan berat sudah menunggu. Garuda masuk grup neraka.

Lawan pertama Indonesia adalah Thailand, sang juara bertahan dan raksasa paling berbahaya di regional ASEAN. Partai 19 November 2016 bakal jadi tolok ukur kekuatan Riedl's boys ke depannya.

Setelah itu, kekuatan baru, Filipina, yang bakal tampil di depan publiknya sendiri. "The Azkals" menjadi momok bagi timnas di beberapa tahun belakangan. Terakhir, juara empat kali, Singapura, bakal memberikan ujian berat dalam laga pamungkas grup yang bisa berstatus amat krusial.

Dalam persiapan selama enam bulan, timnas harus melewati sejumlah masalah, tidak hanya satu. Bukan mudah, tetapi yang tentu memberikan dampak besar pada kualitas skuat Merah-Putih.

Masalah di Negeri Sendiri

Tidak bisa dibohongi, sanksi FIFA yang dijatuhkan pada 2015 benar-benar membuat timnas bak kembali ke titik 0. Memang, selama ini tak ada gelar juara, tetapi peringkat FIFA milik Indonesia bahkan menyentuh rekor terendah.

Saat Garuda seakan-akan sedang "dikandangkan", para rival lain berlari membenahi diri. Sebut saja Myanmar yang kini memiliki generasi jebolan Piala Dunia U-20. Thailand terus berkembang hingga sukses menembus babak kedua Kualifikasi Piala Dunia 2018.

Semua itu terjadi saat para elite malah sibuk dengan “kisruh” di dalam negeri, melupakan satu hal yang bisa membuat masyarakatnya berkaca-kaca bangga melihat sebuah kemenangan membanggakan.

Tak heran, Indonesia tidak diperhitungkan. Dalam jajak pendapat, yang dilakukan oleh media olahraga ternama FOX Sports regional Asia menyebutkan bahwa Indonesia hanya menempati posisi dua terbawah dengan persentase sebanyak enam persen untuk menjuarai Piala AFF 2016.

Hasil tersebut juga menempatkan Indonesia di bawah Kamboja dalam suara dari jajak pendapat tersebut. Sementara itu, Filipina menjadi tim yang paling difavoritkan untuk merebut gelar dengan 25 persen dukungan suara. Sementara itu, Thailand di posisi kedua dengan 22 persen suara.

Tidak hanya itu, timnas seperti dipersulit dari level klub. Kali ini keputusan para klub dengan penyelenggara TSC, PT Gelora Trisula Semesta (GTS), yang seakan mengikatkan rantai ke kaki Garuda.

Para klub hanya memperbolehkan Riedl memilih dua pemain, tidak boleh lebih. Bayangkan, Anda harus membangun sebuah tim dengan pemain seadanya.

Riedl pun berani menerima tantangan tersebut. Tetapi, pelatih Austria itu akhirnya berbicara ketika hanya bisa bermain 0-0 menghadapi Myanmar dan kalah di tangan Vietnam dalam dua laga uji coba awal November lalu.

"Kami kembali ke pertandingan internasional dengan persiapan hanya empat bulan, karena Indonesia terkena sanksi (FIFA) selama satu setengah tahun. Tapi (dalam persiapan), kami hanya bisa membawa dua pemain dari setiap klub dan tak bisa mengambil tiga pemain," ujar Riedl dalam rilis yang diterima VIVA.co.id.

"Banyak pemain berkualitas dari beberapa klub papan atas, tapi saya tak bisa membawanya. Karena ini adalah kesepakatan dengan federasi (PSSI) dan liga (PT GTS). Sebab liga (TSC) tidak bisa ditunda selama Piala AFF berlangsung," katanya.

Beberapa hari sebelum laga pertama, timnas kembali ditimpa masalah. Kali ini kabar cedera yang menimpa pilar utama, Irfan Bachdim, setelah menerima tekel keras Hansamu Yama Pranata dalam sesi latihan pada Selasa pagi lalu.

Engkel Irfan bengkak. Dia juga sempat dilarikan ke rumah sakit untuk melakoni pemindaian bersama tim medis timnas. Setelah pemeriksaan, Irfan dipastikan mengalami retak tulang fibula pada kaki kirinya.

Tentu, kehilangan Irfan menjadi pukulan telak buat timnas. Pemain 28 tahun berdarah Belanda itu merupakan andalan Riedl di lini depan bersama Boaz Solossa. Apalagi, performanya belakangan ini memunculkan decak kagum para penonton.

“Kehilangan pemain inti tentu menyulitkan kami," ujar Riedl soal kehilangan sosok Irfan.

Mimpi Juara, Kerja Keras demi Nasionalisme

Lalu, bagaimana peluang Timnas Indonesia menghadapi lawan-lawan berat di Piala AFF, ditambah berbagai masalah yang mengganggu mereka?

Realistis, peluang Indonesia untuk bisa menjadi juara cukup kecil. Selain tim yang belum solid dari berbagai sisi, mulai strategi dan kekuatan, faktor para lawan juga harus digarisbawahi.

Tetapi bukan tidak mungkin Indonesia mendapatkan keajaiban bak Timnas Italia di Piala Dunia 2006. Diterpa kasus Calciopoli dan cedera pemain utama seperti Francesco Totti dan Alessandro Nesta, Gli Azzurri malah bisa menjadi kampiun.

Pernyataan itu bukan melebih-lebihkan. Kalau Indonesia mampu menerapkan strategi yang dipersiapkan Riedl dan mental baja di setiap laga, maka tiket menuju semifinal bukan hal yang mustahil.

"Kami harus mati-matian untuk Indonesia di Piala AFF 2016," tutur pemain Timnas Indonesia, Andik Vermansyah, jelang berangkat ke Filipina, Kamis 17 November 2016.

"Thailand dan lawan lain memiliki tim yang kuat. Tetapi, tim kami saat ini juga sangat kompak dan berkualitas. Kami yakin bisa memberikan yang terbaik buat Indonesia kalau mau bekerja keras," gelandang naturalisasi, Stefano Lilipaly, menambahkan.

Indonesia mau tidak mau melihat Garuda mereka tampil di ajang bergengsi dengan rantai melilit di kakinya. Tetapi, segala doa dan dukungan tetap diberikan. Peluang sekecil apa pun, tetaplah harapan.

Skuat Garuda pasti sedang membara ingin menjadi pelipur lara negara pencinta “si kulit bundar”. Dengan kegigihan dan jiwa rela berkorban demi Tanah Air, bukan tidak mungkin Indonesia bakal terbang tinggi dan memutus semua rantai yang mengikatnya. Selamat berjuang Timnas! Indonesia selalu di belakangmu.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP