TUTUP
TUTUP
FOKUS

Bahrun Naim, Bom dan Perempuan

Upaya polisi cegah Istana Negara dari teror bom patut diacungi jempol.
Bahrun Naim, Bom dan Perempuan
Aksi Solidaritas #KamiTidakTakut di Lokasi Ledakan Thamrin pada Januari 2016 (VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar)

VIVA.co.id – Nama Bahrun Naim kembali mencuat di pengujung tahun 2016. Pria yang juga dikenal dengan sebutan Anggih Tamtomo alias Abu Rayan alias Abu Aisyah ini kembali disebut menjadi orang di balik rencana teror bom yang kabarnya hendak diledakkan di kawasan Istana Negara, Minggu 11 Desember 2016.

Syukurlah, rencana teror itu berhasil dibongkar polisi. Sejumlah orang – termasuk seorang perempuan, yang disinyalir bakal jadi eksekutor bom bunuh diri – berhasil ditangkap Densus 88 di Bekasi akhir pekan lalu.

Di Indonesia, munculnya nama Bahrun Naim di Indonesia diakui memang bukan kali pertama. Ia adalah orang yang tertangkap atas kepemilikan senjata api dan bahan peledak pada tahun 2010.

Konon, senjata dan peluru itu akan digunakan untuk menyerang Presiden Barack Obama yang hendak berkunjung ke Indonesia. Atas itulah, Bahrun Naim pun diganjar hukuman 2,5 tahun sejak tahun 2011 hingga kemudian bebas pada tahun 2014.

Sepeninggal penjara itulah kemudian Bahrun Naim dikabarkan bertolak ke Suriah dan bergabung dengan kelompok Islam radikal atau ISIS.

Sepintas tidak ada yang istimewa dari perjalanan pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 6 September 1983 itu. Namun demikian, kenapa kemudian nama Bahrun Naim populer?

Bahrun Naim saat di Indonesia

FOTO: Bahrun Naim (berbaju cokelat) saat menjalani sidang atas kepemilikan senjata dan amunisi pada tahun 2011

Katibah Nusantara
Dari laporan kepolisian, kelompok ISIS pada tahun 2014 mendeklarasikan sebuah grup kecil bernama Katibah Nusantara. Kelompok ini bermarkas di al Shadadi Suriah Tenggara.

Kelompok ini dibentuk untuk memfasilitasi orang-orang yang hendak bergabung dengan ISIS, khususnya mereka yang berasal dari wilayah Asia Tenggara terutama Indonesia dan Filipina.

Katibah Nusantara-lah yang menjadi wadah awal untuk penggembelengan latihan militer, penguatan doktrin radikal dan penampungan pertama kali orang Indonesia, Filipina atau pun Malaysia yang berangkat ke Suriah.

Lulusan Katibah Nusantara nantinya akan dikirim ke garis depan, melakukan bom bunuh diri dan perbatasan dan penjaga fasilitas.

Kelompok ini dipimpin oleh Bahrum Syah atau Abu Muhammad Al Indonesi dan Salim Mubarak At Tamimi atau yang populer dikenal dengan sebutan Abu Jandal al Yemini Al Indonesi.

Bahrum Syah merupakan mahasiswa dropout Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang pernah populer karena mengunggah video youtube untuk mengajak orang Indonesia berpartisipasi ke ISIS pada tahun 2014. Ia juga dikenal sebagai pendiri FAKSI (Forum Aktivis Syariat Islam) pada tahun 2013.

Bahrumsyah

FOTO: Bahrum Syah atau Abu Muhammad Al Indonesi, pendiri Katibah Nusantara bersama Abu Jandal dan Bahrun Naim

Dan untuk Abu Jandal, adalah pria kelahiran Pasuruan yang populer karena pernah menantang Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Densus 88, Polri dan Nahdlatul Ulama (NU) untuk berperang pada akhir tahun 2014 di video youtube. Belakangan pada tahun 2016, lelaki yang pernah berjualan madu di Malang ini dikabarkan tewas di perang Suriah.

Kedua figur ini bukan orang sembarangan di ISIS, khususnya di grup Katibah Nusantara. Mereka lah yang menjadi motor gerakan terorisme di Asia Tenggara, perekrut sekaligus pendoktrin orang-orang baru dari Indonesia dan Malaysia.

Karena itu, salah satu yang direkrut dan kemudian menjadi sosok penting di Katibah Nusantara adalah Bahrun Naim. Hubungan perkawanan sejak lama di Indonesia dan kesamaan ideologis, membuat Bahrun Naim mendapat tempat.

Sejak itu, Katibah Nusantara digawangi tiga orang Indonesia, dan kemudian menjadi muasal seluruh pergerakan dan rencana terorisme di Indonesia ataupun di Asia Tenggara.

Bom Thamrin sampai Singapura
Akhir tahun 2015, Irjen Pol Tito Karnavian yang masih menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya pernah mengungkap jika ada bocoran aksi terorisme akan digelar di Indonesia.

Informasi itu didapat tim Detasemen Khusus 88 Antiteror yang berhasil menyadap percakapan Bahrun Naim ke sejumlah kelompok pro ISIS di Indonesia.

"Pesan kepada selnya untuk melakukan serangan, sasaran polisi, tempat berkumpulnya orang barat, dan komunitas lain. Saat itu, serangan diperkirakan terjadi akhir tahun, Natal dan Tahun Baru," kata Tito, Jumat, 15 Januari 2016.

Apa yang disampaikan pimpinan kelompok Katibah Nusantara itu pun terbukti. Tepat pada Kamis, 14 Januari 2016, sebuah bom bunuh diri meledak di kawasan ring satu Indonesia Jalan MH Thamrin.

Ledakan bom di Pos Polisi Sarinah

FOTO: Kepolisian saat terlibat baku tembak dengan pelaku bom bunuh diri di kawasan Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, Januari 2016

Kejadian itu memakan korban 33 orang. Delapan tewas dan 25 lainnya luka. Dari jumlah yang tewas, empat diantaranya adalah teroris, masing-masing Ahmad Muhazan, Dian Juni Kurniadi, Muhammad Ali dan Afif atau Sunakin.

Keterlibatan Katibah Nusantara pun tersingkap. Kelompok inilah yang mendonasi pembiayaan bom Thamrin. Jumlahnya pun terbilang fantastis dan dikirim secara bertahap. "Ada yang Rp40 juta dan ada yang sampai Rp70 juta," kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Januari 2016.

Sejak itulah, nama Bahrun Naim dan Bahrum Syah pun mencuat di Indonesia. Apalagi, sejumlah serangkaian teror pasca bom Thamrin menunjukkan memang ada keterlibatan mereka.

 

Aksi terorisme sepanjang tahun 2016
1. Januari
Bom bunuh diri di Pos Polisi dan Starbuck di kawasan Jl MH Thamrin DKI Jakarta. Empat teroris dan tiga warga sipil tewas serta 25 lain luka-luka.

2. Februari
Perburuan kelompok teroris yang mendalangi bom Thamrin. Lebih dari 30 orang berhasil diamankan Densus 88 di berbagai wilayah

3. Maret
Seorang terduga teroris asal Klaten Jawa Tengah bernama Siyono tewas dalam penangkapan Densus 88. Tubuhnya penuh luka lebam. Ia dinyatakan tewas akibat benturan benda tumpul dibelakang kepala. Siyono diduga merupakan kepala gudang senjata dan perbekalan teroris di Indonesia.

4. Juni
Penangkapan tiga anggota teroris di Surabaya. Kelompok ini memiliki lebih dari 20 rangkaian bom dan terdapat tiga bom aktif berdaya ledak tinggi. Bom kelompok ini terbilang berteknologi tinggi karena diaktivasi menggunakan sensor cahaya dan akan diledakkan di Surabaya jawa Timur

5. Juli
* 5 Juli, ledakan bom bunuh diri di Mapolresta Solo-Surakarta. Pelaku bernama Nur Rohman yang merupakan jaringan Bahrun Naim. Ia tews terkena bom yang dibawanya dan melukai seorang polisi.

* 18 Juli, pimpinan Mujahidin Indonesia Timur Abu Wardah alias Santoso tewas dalam baku tembak di Poso Sulawesi Tengah. ISIS langsung menyerukan aksi balas dendam atas kematiannya.

Santoso alias Abu Wardah.

FOTO: pimpinan Mujahidin Indonesia Timur Abu Wardah alias Santoso semasa hidup

6. Agustus
* 5 Agustus, kelompok teroris Katibah Gigih Rahmat Dewa di Batam tertangkap Densus 88. Kelompok ini berencana akan meledakkan Marina Bay Singapura

* 28 Agustus, percobaan bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep Medan Sumatera Utara. Pelaku

7. November
* 1 November, ledakan bom rakitan di Bantul Yogyakarta. Bom ini berisi paku dan logam berkarat

* 13 November, ledakan bom di Gereja Oikumene Samarinda Kalimanta Timur. Seorang bocah berusia 2,5 tahun tewas. Pelaku adalah terpidana teroris kasus bom buku tahun 2011

* 14 November, pelemparan bom molotov di Vihara Singkawang Kalimantan Barat

* 23 November, penangkapan kelompok teroris Majalengka. Kelompok ini dikenal piawai membuat bom. Rakitan mereka, dari penggeledahan polisi ternyata bisa memiliki kekuatan tiga kali lebih dahsyat dari bom Bali pada tahun 2002 yang menewaskan 200 orang.

8. Desember
Penangkapan perempuan calon pelaku bom bunuh diri di kawasan istana negara. Ia direncanakan akan membawa bom dengan berat tiga kilogram.

 

Perempuan Pengebom
Di ujung tahun 2016, seorang perempuan berhijab bernama DYN (27) asal Cirebon tertangkap di Bekasi Jawa Barat. Ia diamankan di sebuah rumah kost bersama barang bukti berupa bom seberat tiga kilogram siap meledak.

Rencananya bom ini akan diledakkan di kawasan Istana Negara pada Minggu, 11 Desember 2016.

Kabar ini jelas mengejutkan. Ini menjadi fenomena pertama di Indonesia dalam dunia terorisme bahwa ada perempuan yang siap mati untuk meledakkan dirinya.

DYN, mantan tenaga kerja wanita ini kabarnya merupakan istri kedua dari seorang pria yang masih dirahasiakan identitasnya. Keberhasilan penangkapan DYN ini patut diapresiasi. Sebab ini menjadi rujukan bahwa tidak selamanya aksi teror bom dilakukan oleh pria.

"Ya, hal baru," kata pengamat terorisme Indonesia Sidney Jones.

DYN (Dian Yuli Novi), perempuan berusia 27 tahun asal Cirebon Jawa Barat yang tertangkap di Bekasi. Ia akan menjadi eksekutor bom bunuh diri di Jakarta, Sabtu (10/12/2016)

FOTO: DYN, terduga eksekutor bom bunuh diri yang tertangkap di Bekasi Jawa Barat, Sabtu (10/12/2016)

Menurut Sidney, penggunaan perempuan sebagai pelaku teror. Dianggap menguntungkan kelompok teroris. Sebab umumnya perempuan tak dicurigai polisi. "Jadi lebih gampang mengelabui petugas keamanan. Mereka (juga bisa) mengunjungi tahanan teroris di penjara tanpa diperiksa terlalu ketat," kata Sidney.

Karena itulah, diduga kuat kelompok terorisme di Indonesia melihat peluang itu. Ditambah lagi di ISIS, kini para kelompok perempuan juga sedang mengambil tempat untuk bisa berperan lebih aktif dalam pergerakan.

"Perempuan ISIS ingin mendapatkan peranan lebih aktif daripada sebelumnya dibanding laki-laki," kata Sidney.

Sementara itu, kepolisian menyangkal jika perempuan kini telah mengambil peranan dalam aksi teror di Indonesia. Dalih polisi, bahwa yang dilakukan DYN tak lebih karena ia telah siap untuk mati.

"Pada intinya mereka mencari orang yang mau beramaliah dan berjihad. Kebetulan kali ini perempuan," kata Kabag Mitra Biro Penerangan masyarakat Polri Kombes Pol Awi Setiyono.

Sejauh ini, sejak terbongkarnya rencana bom bunuh diri yang dilakukan DYN, kepolisian masih terus mendalami kelompok lain yang berada di belakang mereka. Nama Bahrun Naim pun tetap menjadi aktor utama di balik serangan teror bom di Indonesia.

 

Grup pro ISIS Indonesia
1. Jamaah Anshorut Tauhid (2008), pendiri Abu Bakar Baasyir, lalu pecah menjadi Jamaah Anshorut Syariah
2. Mujahidin Indonesia Timur (2011) dipimpin Santoso alias Abu Wardah al Syarqi, menaungi perekrutan Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat (BIMA) dan Kalimantan Timur

3. Jamaah Tauhid wal Jihad (2004) Aman Abdurrahman alias Oman Rochman

4. Ring Banten pecahan dari Darul Islam (1999) pimpinan Rois alias Iwan Dharmawan

5. Gema Salam-Gerakan Mahasiswa untuk Syariat Islam (2013), digagas Aman Abdurrahman

6. Mujahidin Indonesia Barat (2012), dipimpin oleh Abu Jandal

7. FAKSI-Forum Aktivis Syariat Islam (2013), dibentuk Muhammad Fachry atau Tuah Febriwansyah dan Bahrum Syah fungsi doktrin dan pengajaran di media internet

Sumber: USAID: Indonesian and Malaysian Support For The Islamic State (Final Report)-Januari 2016

 

Apa pun itu, fakta bahwa ISIS telah menunjukkan kekuatannnya di Indonesia telah makin nyata. Nyaris di beberapa tempat vital telah menjadi incaran kelompok radikal ini.

Dan tentunya, fakta lain bahwa lebih dari 500 orang Indonesia telah berangkat ke Suriah untuk bergabung ke ISIS tak bisa dibantah. Kepulangan mereka ke Indonesia tentu akan menjadi momok baru. Belum lagi dilaporkan ada belasan narapidana terorisme akan bebas dalam waktu dekat karena masa tahanan mereka telah habis.

 Abu Bakar Baasyir, terpidana kasus terorisme di Indonesia

FOTO: Abu Bakar Ba’asyir, terpidana teroris Indonesia yang mendirikan Jamaah Ansharut Daulah dan telah berbaiat ke ISIS

Kondisi ini makin pelik dengan membanjirnya media sosial yang terbukti menjadi salah satu alat koordinasi dan komunikasi kelompok radikal. Jelas ini bukan perkara mudah. Mayoritas muslim Indonesia menjadi rumah empuk untuk pembentukan calon pelaku-pelaku teror jika tak diakali dengan kuat.

"Terorisme di Indonesia tidak akan berakhir sebelum ISIS selesai (berakhir) atau konflik-konflik yang terjadi di dunia muslim selesai," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Lantas benarkah pendapat Tito tersebut? Ini menjadi pekerjaan besar orang Indonesia. Teroris bukan cuma masalah kepolisian tapi juga seluruh orang Indonesia. Barangkali apa yang disampaikan Tito pada Oktober silam, mungkin layak menjadi catatan penting. Setidaknya untuk publik, mengingat Natal dan Tahun Baru tahun 2017 semakin dekat.

"Yang paling penting bagaimana mengimunisasi warga masyarakat (yang rawan) dari idiologi radikal agar mereka kebal," katanya.

 

(ren)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP