TUTUP
TUTUP
FOKUS

Suka Cita Natal yang Damai dan Bertenggang Rasa

Suasana ini sangat dibutuhkan di tengah gejolak dan konflik politik.
Suka Cita Natal yang Damai dan Bertenggang Rasa
Misa Malam Natal di suatu gereja di Indonesia, 24 Desember 2016.  (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

VIVA.co.id – Perayaan Natal 2016 di sejumlah wilayah di Indonesia dan dunia berlangsung khidmat, meski di tengah penjagaan keamanan yang cukup ketat, menyusul ancaman teror yang melanda. Seruan maupun pesan Natal pun disampaikan para pemuka agama kepada seluruh umat Nasrani yang merayakannya. 

Salah satu pesan yang sarat makna disampaikan Pemimpin Gereja Katolik se-dunia, Paus Fransiskus. Dalam pesan Natalnya, Paus mengingatkan bahwa tidak sedikit manusia kini tengah disandera oleh materialisme, sehingga membutakan nuraninya. Padahal, banyak manusia lain yang kelaparan dan masih membutuhkan uluran tangan dari sesama yang berkecukupan. 

Dilansir dari laman Reuters, Minggu 25 Desember 2016, Paus Fransiskus – yang merayakan Natal keempat kalinya sejak terpilih pada 2013 – pada misa malam Natal juga mengatakan bahwa dunia sering terobsesi dengan hadiah, pesta, dan lebih mementingkan diri sendiri, sehingga jauh dari kerendahan hati.

"Jika ingin merayakan Natal, kita perlu merenungkan tanda ini. Kesederhanaan dari bayi kecil yang baru lahir," kata Paus di St. Basilika Petrus, Roma. Ancaman teror yang terjadi di sejumlah negara di Eropa membuat pengamanan Natal di Basilika diperketat. 

Paus mengatakan bahwa pesan Natal adalah kerendahan hati dan kesederhanaan. Karena itu, keduniawian ini perlu dibebaskan lewat Natal. Sepanjang tahun, Paus sudah mendesak adanya rasa kasih terhadap para pengungsi, dan mendorong umat Kristiani untuk mengingat bahwa Yesus pun dulunya adalah seorang pengungsi.

Sementara itu Uskup Agung, Mgr. Ignatius Suharyo dalam pesan Natalnya saat misa di Gereja Katedral, Jakarta menyatakan pentingnya menjaga persaudaraan antarumat dan jangan sampai terpecah. 

Menurut Ign. Suharyo, pesan Natal bersama ini ada tiga hal yang dapat disampaikan. Pertama, Natal bukan peristiwa masa lampau, tetapi realitas dan pengalaman umat Kristiani dan aktualitas kelahiran Yesus.

"Kedua adalah konteks dulu Yesus lahir dan menurut sejarah Yesus lahir di Palestina dan dalam jajahan Romawi. Yesus ada di hiruk pikuk kehidupan dunia, begitu pun kita yang sekarang," kata Suharyo di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Minggu 25 Desember 2016.

Ia menyatakan, masalah di dunia itu sampai sekarang belum selesai pengaruhnya, seperti masalah sosial, politik, dan agama. "Tentu perayaan Natal ini memuat amanat, terhadap masalah-masalah aktual dan bagian kedua dari pesan ini sekarang dilihat dari negeri kita," tuturnya.

Pesan Natal yang ketiga adalah soal narkoba serta persaudaraan yang saat ini merajalela dan bisa membuat perpecahan. Untuk itu, tema Natal ini adalah bersatu sebagai bangsa. "Dan tentu kita membutuhkan analisis yang lebih jelas. Gereja Katolik Keuskupuan Agung ingin mewartakan sila pertama Pancasila. Katolik kerahiman yang memerdekakan, yaitu Allah. Dan untuk terus berpikir dan mencari jalan sila kedua makin adil dan beradab," tuturnya.

Ign Suharyo berharap seluruh rakyat Indonesia, tetap bersatu tanpa  membeda-bedakan latar belakang suku, agama, ras antar golongan. Karena, menurutnya, Indonesia lahir dari sejarah panjang perjuangan seluruh umat dan kalangan.

"Negara ini adalah negara kita bersama. Bagi saya ada tiga tonggak yang sangat penting dalam sejarah seperti pada 1908 yang jadi hari kebangkitan," ujarnya. Oleh sebab itu, menurutnya jika sejarah itu dan kesatuan RI yang disyukuri, maka jangan pernah di negara ini di  guncang-guncang lagi atau dioti- atik.

"Jadi jangan sampai dibuat perpecahan lagi, kalau di dalam Gereja Katolik ada rumus metodologi khusus yang biasa didoakan seluruh umat setiap 17 Agustus untuk bangsa dan negara," katanya. 

Sebelumnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berpesan agar perayaan Natal yang diperingati oleh umat Kristiani setiap 25 Desember, diselenggarakan dalam suasana kesederhanaan. Menurutnya, perayaan Natal harus dapat dijadikan momentum bagi umat Kristiani untuk bisa lebih meningkatkan kualitas kehidupan beragama sesuai nilai dan ajaran yang diyakininya.

"Sebab, peningkatan kualitas beragama menjadi modal penting bagi pembangunan bangsa yang majemuk. Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa religius dalam segala bentuk keragamannya," kata Menteri Agama dalam siaran persnya, Sabtu,
24 Desember 2016.

Lukman berharap semua pihak dapat mengedepankan sikap saling menghormati dan bertoleransi. Di tengah keberagaman, sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan sangat diperlukan, terutama untuk merawat kerukunan dan
kedamaian.

"Untuk itu, kita hormati saudara-saudara kita yang tak mengucapkan 'Selamat Natal' atas dasar pemahaman keyakinannya, sebagaimana kita juga hormati mereka yang mengucapkannya. Kita berlapang dada menghormati umat Kristiani yang merayakan Natal, sembari berharap mereka juga dengan penuh kesadaran menghormati sesama saudaranya yang tak merayakan Natal."

Menurut Lukman, bila semua anak bangsa saling menghormati, saling memberi kehormatan kepada yang lain, maka semua akan mendapatkannya. Sebaliknya, bila yang terjadi adalah sikap saling menuntut untuk dihormati, akan muncul pertanyaan tentang siapa yang memberi dan siapa yang mendapatkan.

"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Memberi lebih baik dari pada menerima, apalagi meminta. Marilah berlomba dalam kebajikan. Selamat bersuka cita dan berbahagia. Namun tetaplah dalam kesederhanaan dan taburlah kebaikan," kata Lukman.

Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo berharap Natal tahun 2016 memberikan perdamaian serta menyebarkan rasa kasih sayang dari umat Kristen kepada sesama dan seluruh umat beragama di Indonesia.

Gatot mengatakan, pesan Natal-nya sekaligus mewakili ucapan selamat Natal yang disampaikan seluruh prajurit TNI. "Semoga damai dan kasih Natal menyertai bapak dan ibu sekalian," ujar Gatot saat meninjau ibadah Natal di Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu malam, 24 Desember 2016.

Pengamanan Gereja 

Presiden Joko Widodo sudah meminta Kapolri dan Panglima TNI untuk meningkatkan pengamanan jelang Natal 2016 dan Tahun Baru 2017 dari ancaman terorisme. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan memang untuk fokus pengamanan adalah dari ancaman terorisme.

"Yang paling utama di terorisme, terutama Jakarta dan Bali. Itu kan target-target tradisional mereka (kelompok teroris)," kata  Tito usai rapat kabinet terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis, 22 Desember 2016.

Aktivitas mudik pada liburan panjang Natal dan Tahun Baru 2017, juga menjadi perhatian Kapolri. Sebab, akan ada arus mudik. Sehingga, akan diawasi juga beberapa jalur yang digunakan. "Arus mudik ini brexit (Tol Brebes Exit), kita waspadai. Jalur-jalur tol Cipali sampai ke Bandung," katanya.

Sementara untuk udara dan laut, menurutnya, tidak ada masalah.Saat ini, sel-sel terorisme diakui mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu, masih ada. Baik itu di Jawa maupun di luar Jawa. "Ada (sel teroris di luar Jawa). Ada di Deli Serdang (Sumatera Utara), Payakumbuh (Sumatera Barat), Batam. Ada di Bima (NTB)," kata Tito.

Polda Metro Jaya  memaksimalkan pengamanan Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2017 dengan mengerahkan ribuan personel gabungan. Gereja dan tempat wisata akan dijaga untuk mengantisipasi ancaman terorisme maupun kejahatan konvensional jelang akhir 2016.  

Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi M Iriawan mengatakan, pengamanan memang dimaksimalkan  terhadap 1.610 gereja yang tersebar di seluruh wilayah hukum Polda Metro Jaya. Sejumlah organisasi masyarakat telah berkomitmen untuk membantu melakukan pengamanan.

Polda Metro Jaya juga sudah menerima surat dari pengurus Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) yang bersedia ikut terlibat dalam pengamanan Natal dan Tahun Baru 2017.

"Tentu ada gereja yang besar, kalau pusat seperti Katedral, Immanuel, dan sebagainya yang kita maksimalkan. Bahkan saudara kita dari Banser (NU) sudah mengirim surat ke kami untuk membantu melakukan pengamanan natal di Jakarta," kata Iriawan kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jumat, 23 Desember 2016.

Namun, Polda Metro Jaya masih mempertimbangkan tawaran tersebut. Sebab, bila jumlah personel keamanan yang dikerahkan dianggap sudah cukup, maka tidak diperlukan lagi bantuan pengamanan dari pihak lain. "Mereka mengirim surat ke kami katanya akan berpartisipasi. Tapi kita lihat dulu, kalau cukup pasukan kami, ya mungkin kami saja," katanya.

Menurutnya, siapa saja boleh membantu Kepolisian untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Bentuk toleransi juga bisa ditunjukkan untuk membantu pengamanan perayaan hari raya agama apapun. Iriawan menambahkan, akan memperkuat pengamanan di gereja yang menjadi perhatian.

"Masyarakat boleh. Itu toleransi umat beragama. Detector kita usahakan maksimal di gereja-gereja. Kemarin salah satu targetnya teroris adalah polisi yang sedang melaksanakan pengamanan natal dan tahun baru," katanya. Kapolda Metro Jaya mengimbau kepada masyarakat baik umat nasrani dan umat Islam agar saling menghargai dan menjaga kerukunan.

Suasana Kondusif

Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto, mengatakan bahwa situasi menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2017 terbilang aman terkendali. Pernyataan tersebut diucapkan Wiranto karena pemerintah, kata dia, telah melakukan koordinasi dengan aparat, baik TNI dan Polri. 

"Pengamanan untuk Natal dan tahun baru, sudah kami rapatkan, baik dari Kepolisian yang dibantu oleh TNI sudah siap mengamankan teman-teman (masyarakat) yang mudik untuk Natal atau merayakan tahun baru," kata Wiranto, Kamis malam, 22 Desember 2016. Diungkapkan oleh Wiranto, dengan berkoordinasi bersama pihak keamanan, Natal dan tahun baru dijamin akan berlangsung dengan aman.

"Memang perlu adanya suatu kewaspadaan dan aparat keamanan dari apa yang telah kita rencanakan akan melakukan yang terbaik. Mudah-mudahan tidak ada satu hal yang menodai suatu perayaan yang setiap tahun kita lakukan," katanya.

Wiranto mengatakan bahwa pengamanan perayaan Natal dan tahun baru juga perlu melibatkan unsur masyarakat dan juga umat bersama-sama sama berdoa dan berserah diri kepada Tuhan. "Saya kira kita bisa melewati itu dengan baik dengan Tuhan Yang Maha Kuasa," katanya.

Sementara itu, Tito memastikan bahwa perayaan Natal pada tahun ini berjalan lancar dan damai. Ia menjelaskan, berdasarkan pantauannya terhadap laporan-laporan dari Polda di seluruh Indonesia bahwa perayaan Natal di berbagai tempat berjalan dengan lancar dan damai dari tingkat kabupaten, kota madya sampai ke kecamatan.

Namun ia mengakui pihaknya telah memberlakukan status siaga satu untuk sejumlah daerah terkait dengan pengamanan Perayaan Natal dan Tahun Baru 2017 di Indonesia. "Memang ada yang berstatus siaga satu, tapi itu tidak berlaku untuk semua daerah," kata Tito di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Sabtu malam, 24 Desember 2016.

Ia menambahkan, pemberlakuan status siaga satu di sejumlah daerah tergantung pada tingkat kerawanan di daerah masing-masing. Menurutnya, salah satu pertimbangan satu daerah ditetapkan sebagai siaga satu dapat dilihat dari latar belakang daerah tersebut. Apabila daerah itu rawan konflik, kemungkinan aparat kepolisian menetapkan status
siaga satu. "Jadi kami berlakukan fleksibel," ujarnya.

Ia menegaskan, salah satu daerah yang telah ditetapkan siaga satu adalah daerah Jawa Tengah. Pasalnya, Jawa Tengah adalah salah satu daerah yang cukup rawan konflik. "Pertimbangannya itu karena kita tahu, kemarin ada beberapa kelompok terduga teroris yang berasal dari situ juga," katanya.

Kendati demikian, orang nomor satu di Korps Bhayangkara itu menegaskan, bahwa dirinya sudah memantau secara langsung perayaan malam Natal di sejumlah gereja di Jakarta. Tidak hanya itu, ia juga mengaku sudah memantau sejumlah daerah melalui Kepolisian Daerah yang saat ini tengah melakukan pengamanan di seluruh Indonesia.

"Sampai saat ini semua aman. Saya persilakan bagi saudara-saudara kristiani untuk memperingati perayaan Natal bersama-sama. Saya sudah memantau secara langsung, baik ke beberapa gereja di Jakarta dan kepada polda di daerah. Alhamdulillah, semua peringatan Natal sampai malam ini berjalan dengan lancar," ujarnya.

Namun, Ia menegaskan, pihaknya akan terus bekerja bersama TNI, dan seluruh aparatur keamanan lainnya untuk memastikan peringatan Natal dan Tahun Baru 2017 di Indonesia berjalan dengan kondusif dan damai.

Saat berada di Gereja Reformed Injili Indonesia, Kemayoran, Jakarta Pusat, Tito menyampaikan amanat seperti yang disampaikan Presiden dan Wakil Presiden RI, Soekarno dan Hatta. Pesannya adalah agar kebinekaan yang membentuk
Indonesia terus dijaga. Kebinekaan atau keberagaman, merupakan identitas bangsa. "Seperti pertama disampaikan Soekarno dan Hatta, perbedaan bukanlah pemecah, justru pemersatu," ujar Tito.

Selama berlangsung perayaan Natal sejak Sabtu malam hingga Minggu sore, di wilayah kerja Polda Metro Jaya berlangsung dengan aman dan kondusif. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan sampai saat ini perayaan dan misa Natal di seluruh gereja di Jakarta berjalan aman.

"Dari semalam sampai hari ini, situasi aman. Dan misa di gereja-gereja kebanyakan pada sore hari yang terakhir. Pengamanan memang diperketat di beberapa gereja yang dinilai rawan, tapi semua berjalan aman," ujarnya saat dihubungi VIVA.co.id, Minggu 25 Desember 2016.  Selamat Natal 2016.

 

(ren)
 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP