TUTUP
TUTUP
FOKUS

Diabetes, Penyakit Gaya Hidup

Pada 2014, penderita diabetes di Indonesia mencapai 9,1 juta jiwa.
Diabetes, Penyakit Gaya Hidup
Ilustrasi pengecekan diabetes (Pixabay/TesaPhotography)

VIVA.co.id – Meninggalnya salah satu personel Project Pop Muhammad Fachroni alias Oon, pada Jumat 13 Januari 2017 cukup menghentak publik. Oon meninggal setelah menderita diabetes tipe II kronis yang umumnya dialami 9,1 juta penduduk Indonesia.

Masifnya penderita diabetes di dunia membuat informasi mengenai penyakit ini terdengar sepele. Padahal, diabetes adalah salah satu penyakit kardiovaskular kronis yang berlangsung menahun dan komplikasinya rentan terhadap gangguan kesehatan serius. 

Penyakit ini dapat memengaruhi kinerja organ lain seperti jantung dan ginjal sehingga rentan terhadap kematian. Karenanya upaya pencegahan dan penanganan penting untuk disimak.

Indonesia peringkat 7 dunia penderita diabetes

Menyebar bagai endemi, angka penderita penyakit diabetes di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data IDF Diabetes Atlas, pada 2014, penderita diabetes di Indonesia mencapai 9,1 juta atau menduduki peringkat tujuh dunia.

Sementara itu, jumlah penderita penyakit mematikan ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

"Bertambahnya penderita penyakit ini sangat cepat. Tahun 2011, Indonesia masih di peringkat kesepuluh dunia, tahun 2013-2014 sudah menduduki posisi ketujuh dunia," kata Dokter Ahli Penyakit Dalam Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya, Askandar Tjokroprawiro, kepada Viva.co.id di Surabaya beberapa waktu lalu.

Askandar memprediksi, tingginya jumlah penderita diabetes itu akan meningkat cepat menjadi 592 juta jiwa hingga tahun 2035. Dengan kata lain, satu dari sepuluh orang adalah penderita diabetes melitus.

Penyebab tingginya penderita diabetes pada masyarakat perkotaan, dipicu oleh gaya hidup yang kurang sehat. Jam kerja yang padat, aktivitas tinggi, seringkali menjadikan makanan instan sebagai pilihan satu-satunya yang praktis untuk dikonsumsi.

Selain itu, kurang berolahraga, bekerja hingga larut malam, tingginya asupan lemak, membuat stres menjadi tak terbendung.

Diabetes juga menyerang berbagai usia, termasuk kalangan muda. Yang mengejutkan, menurut Journal of American Medical Association penderita diabetes usia muda lebih banyak ditemukan di Asia.

"Umumnya penyakit ini diderita remaja-remaja yang mengalami obesitas, yang gemuk. Sangat berisiko terkena diabtes melitus," ujar psikolog Askandar.

Askandar menyebutkan bahwa faktor genetik adalah faktor utama yang menentukan seseorang berisiko terkena diabetes melitus.

Memahami kembali diabetes

Diabetes (diabetes melitus) adalah penyakit jangka panjang atau kronis yang ditandai dengan kadar gula darah (glukosa) yang jauh di atas normal. Kadar gula darah dikatakan terlalu tinggi jika melebihi angka 200 mg/dL. Penumpukan glukosa dalam darah (hiperglikemia) dapat menyebabkan komplikasi seperti kerusakan ginjal dan saraf, serta masalah pada mata.

Dilansir WebMD, Ada dua jenis utama diabetes yaitu tipe I dan tipe II. Diabetes tipe I dikatakan minim kerusakan pankreas dan jarang dialami. Sementara itu, diabetes tipe 2 merupakan yang sering terjadi (80 persen).

Diabetes tipe I biasanya memiliki kadar gula darah yang terkontrol dan tidak tinggi, sehingga meskipun terjadi luka, akan lebih mudah ditangani dan cepat sembuh. Untuk tipe basah digunakan pada penderita diabetes yang memiliki komplikasi berupa luka yang sulit sembuh.

Komplikasi hingga risiko amputasi

Almarhum Oon Project Pop diketahui berjuang melawan penyakit diabetes dan sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa hari sebelum akhirnya meninggal dunia akibat komplikasi gagal ginjal.

Penderita diabetes memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi. Kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus dapat menyebabkan penyakit serius yang memengaruhi jantung dan pembuluh darah, mata, ginjal, saraf, hingga gigi. Jadi, penderita diabetes juga memiliki risiko yang lebih tinggi menderita infeksi.

Menurut laman International Diabetes Federation (IDF), menjaga tekanan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol dalam batas atau mendekati batas normal dapat menunda atau bahkan mencegah terjadinya komplikasi diabetes. Karena itu, penderita diabetes harus melakukan pengecekan berkala. Berikut bahaya komplikasi diabetes yang harus diwaspadai.

Penyakit kardiovaskuler

Dapat memengaruhi jantung dan pembuluh darah, bahkan dapat menyebabkan komplikasi fatal seperti penyakit arteri koroner yang dapat menimbulkan serangan jantung dan stroke. Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian paling umum pada penderita diabetes. Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, gula darah tinggi, dan faktor risiko lain berkontribusi pada peningkatan komplikasi kardiovaskuler.

Penyakit ginjal (Diabetic Nephropathy)

Komplikasi ini disebabkan oleh kerusakan pada pembuluh darah kecil dari dalam ginjal. Kondisi ini dapat menyebabkan ginjal menjadi kurang bekerja dengan baik dan akhirnya menjadi gagal. Penyakit ginjal lebih umum terjadi pada penderita diabetes dibandingkan mereka yang tidak. Menjaga kadar gula darah dan tekanan darah mendekati normal dapat banyak mengurangi risiko penyakit ginjal.

Penyakit saraf (Diabetic Neuropathy)

Diabetes dapat menyebabkan kerusakan pada saraf di seluruh tubuh saat tekanan darah dan gula darah sangat tinggi. Hal ini dapat menyebabkan masalah pencernaan, disfungsi ereksi, dan fungsi organ lainnya. Di antara area tubuh yang paling banyak terkena adalah kaki dan tangan, khususnya kaki. Kerusakan saraf di area ini disebut dengan peripheral nueropathy dan dapat menyebabkan rasa sakit, menggelitik, dan mati rasa.

Mati rasa ini yang sangat penting karena dapat membuat luka tidak diketahui, hingga menyebabkan infeksi dan kemungkinan diamputasi. Penderita diabetes memiliki risiko diamputasi hingga lebih dari 25 kali lebih tinggi dari yang bukan penderita diabetes.

Namun, dengan penanganan yang komprehensif, amputasi besar yang berkaitan dengan diabetes dapat dicegah. Bahkan saat memang harus diamputasi, kaki yang masih tersisa dan nyawa penderita dapat diselamatkan dengan perawatan lanjutan dari tenaga medis multidisiplin. Penderita diabetes harus secara rutin memeriksa kaki mereka.

Penyakit mata (Diabetic retinopathy)

Sebagian besar penderita diabetes akan mengalami semacam penyakit mata yang menyebabkan berkurangnya pandangan atau bahkan kebutaan. Tingginya kadar gula darah yang terus-menerus, bersamaan dengan tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi adalah penyebab utama penyakit ini. Kondisi ini bisa dikelola dengan pemeriksaan mata rutin dan menjaga kadar gula dan lipid pada batas atau mendekati batas normal.

Pencegahan selalu lebih baik daripada mengobati

Selain faktor gen, diabetes dapat dicegah. Caranya adalah dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat.

Menurut studi The Nurses 90 persen diabetes tipe II diakibatkan beberapa faktor seperti kebihan berat badan, Jarang berolahraga, tidak menjaga asupan makanan, merokok.

Dilansir dari laman hsph.harvard, ada beberapa langkah pencegahan untuk meminimalisasi risiko diabetes.

Kendalikan berat badan

Berat badan adalah salah satu faktor pemicu diabetes. Kondisi obesitas akan meningkatkan risikonya hingga 40 kali lebiih tinggi. Karenanya, menurunkan atau mengendalikan berat badan akan menurunkan risikonya hingga 70 persen.

Bergerak

Lakukan aktivitas fisik seperti berjalan santai atau berolahraga ringan namun rutin. Selain mampu kurangi bobot tubuh, bergerak juga mampu memperlancar peredaran darah.

Asupan makanan sehat

Kurangi asupan lemak, dan junk food. Perbanyak konsumsi sayuran dan buah. Selain itu, masaklah menu makanan Anda sendiri. Selanjutnya, lakukan diet sehat dengan menghindari asupan makanan tertentu seperti minuman manis, lemak, karbohidrat yang mengandung banyak gula.

Berhenti merokok

Diabetes tipe II memiliki daftar panjang berkaitan dengan rokok. Perokok memiliki 50 persen potensi diabetes daripada mereka yang tidak merokok.

Rutin cek kadar gula darah

Rajin memeriksa kadar gula darah menjadi salah satu faktor yang mampu mencegah diabetes, karena nantinya berujung pada diagnosa untuk mengupayakan pencegahan.

Deteksi dini

Deteksi dini adalah salah satu langkah pencegahan diabetes. Banyak orang belum memahami tanda gejala diabetes tipe dua dalam tubuhnya. Padahal, serangan diabetes jenis ini dapat dikenali dengan mudah jika diperhatikan lebih detail.

Diabetes memiliki gejala khas yang sebaiknya dipahami dan dikenali, agar menghindari penyakit berat yang bisa diakibatkannya. Dikutip dari laman Foxnews, kemungkinan diabetes terjadi bila seseorang mengalami kondisi berikut,

Sering haus

Dehidrasi merupakan sinyal dari otak, untuk mengatakan bahwa ia membutuhkan asupan glukosa. Saat tubuh tidak mampu menyerap glukosa dari asupan makanan atau minuman, maka rasa haus akan terus terjadi.

Bolak balik kamar mandi

Hal ini berkaitan dengan rasa haus yang sering dan akhirnya ginjal mengalami kelebihan cairan untuk akhirnya dikeluarkan melalui urin. Rasa haus kemudian akan terus terjadi dan keinginan untuk buang air kecil juga tidak berhenti. Siklus tersebut akan terus berulang pada penderita diabetes.

Kelelahan

Banyak orang belum memahami bahwa rasa lelah berkaitan dengan masalah gula darah di tubuh. Saat glukosa dari makanan tidak mampu diserap, sel di tubuh kekurangan energi, sehingga rasa lelah akan terus menyerang.

Mati rasa dan kesemutan

Masalah ini berkaitan dengan kerusakan saraf. Hal tersebut disebabkan peredaran darah mengandung gula darah yang berlebihan, yang bersifat asam untuk saraf-saraf. Dengan demikian, saraf membuat tangan dan kaki seolah mati rasa.

Penglihatan buram

Saat glukosa sudah berlebihan di peredaran darah, berdampak pada pelebaran jaringan di beberapa organ, salah satunya lensa mata. Penglihatan seseorang yang diabetes bisa menjadi buram akibat hal tersebut.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP