TUTUP
TUTUP
FOKUS

Jakarta Banjir Saat Curah Hujan Lebih Kecil

Curah hujan tahun ini lebih kecil dari tahun 2007, 2013 dan 2014.
Jakarta Banjir Saat Curah Hujan Lebih Kecil
Banjir di kawasan WTC Mangga Dua Selasa, 21 Februari 2017. (VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar)

VIVA.co.id – Selasa pagi, situasi Ibu Kota semrawut. Lalulintas sangat tidak beraturan, karena banyak jalan yang tak bisa dilintasi kendaraan. Penyebabnya, banjir. Hujan dengan intensitas deras terus menerus yang berlangsung sejak dini hari hingga siang yang membuat seluruh wilayah Jakarta terendam. Ketinggian air di setiap wilayah di Jakarta pun bervariasi.

Banjir yang mengepung Jakarta ini bukan hanya singgah di rumah warga, bahkan membuat transportasi massal seperti KRL Commuter Line dan TransJakarta terganggu karena jalur terendam air. Tak hanya itu, jalan tol dari arah Bekasi menuju Jakarta juga ikut kebanjiran. Akhirnya, ribuan kendaraan di tol terjebak dan baru bisa melintas secara perlahan dalam waktu yang cukup lama.

Meski banjir tak menerjang semua rumah warga, tetapi dampaknya dirasakan oleh semua pihak. Banjir tahunan kali ini nyatanya bukan hanya menimpa Jakarta, tetapi wilayah sekitarnya seperti Depok, Tangerang dan Bekasi.

Dari data yang dihimpun BMKG, curah hujan yang turun dan menyebabkan banjir di Jakarta dan sekitarnya antara lain Lebak Bulus 71.7 mm, Pakubuwono 106 mm, Beji 65 mm, Depok 83 mm, Gunung Mas 39 mm, Pasar Minggu 106.5 mm, Tangerang 92.5 mm, Pondok Betung 67.4mm, Cengkareng 72 mm, Tanjung Priok 115.9 mm, Kemayoran 180 mm, Dramaga 75 mm, Curug 37.5 mm, Kelapa Gading 145.4 mm, TMII 48.8 mm, Parung 21.8 mm,  Jagorawi 72.5 mm, Mekarsari 60.8 mm, Leuwiliang 89.7 mm, Katulampa 35.8 mm, dan Bekasi 65 mm. Tebal hujan tersebut tergolong hujan sedang hingga lebat.

Curah hujan tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan hujan yang menyebabkan banjir di Jakarta pada tahun 2007, 2013 dan 2014 yang saat itu mencapai 200-350 mm.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menilai, banjir yang mengepung wilayah Jakarta, Bekasi dan Tangerang pada hari ini menunjukkan wilayah tersebut masih rentan terhadap banjir.

Dia mengatakan hal ini tidak terlepas dari dampak perubahan penggunaan lahan yang begitu pesat di wilayah Jabodetabek, sehingga hampir 80 persen hujan jatuh berubah menjadi aliran permukaan. Sementara itu kapasitas drainase dan sungai jauh lebih kecil daripada debit aliran permukaan.

"Akibatnya banjir dan genangan terjadi dimana-mana," kata Sutopo dalam keterangan tertulisnya.

Dari citra satelit Landsat tahun 1990 hingga 2016, kata dia, menunjukkan permukiman dan perkotaan berkembang luar biasa. Permukiman nyaris menyatu antara wilayah hulu, tengah dan hilir dari daerah aliran sungai yang ada di Jabodetabek. Hal itu ditambah sangat minim ruang terbuka hijau atau kawasan resapan air sehingga suatu keniscayaan air hujan yang jatuh sekitar 80 persennya berubah menjadi aliran permukaan. Bahkan, di wilayah perkotaan sekitar 90 persen menjadi aliran permukaan.
 
Belum lagi, kapasitas sungai-sungai dan drainase perkotaan mengalirkan aliran permukaan masih terbatas. Okupasi bantaran sungai menjadi permukiman padat menyebabkan sungai sempit dan dangkal. Sungai yang harusnya lebar 30 meter, saat ini hanya sekitar 10 meter. Bahkan ada sungai yang 5 meter. Sudah pasti kondisi tersebut menyebabkan banjir.

"Relokasi permukiman di bantaran sungai adalah keniscayaan jika ingin memperlebar kemampuan debit aliran. Tapi seringkali relokasi sulit dilakukan karena kendala politik, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat," ujarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, penataan ruang harus dikendalikan. Daerah-daerah sepadan sungai, kawasan resapan air dan kawasan lindung harus dikembalikan ke fungsinya.

"Tidak mungkin Pemda Jakarta sendirian mengatasi banjir. Harus kerjasama dengan pemerintah pusat dan pemda lain. Studi banjir dan masterplan pengendalian banjir sudah ada sejak lama. Tinggal komitmen bersama. Artinya wilayah Jabodetabek juga makin tinggi risikonya terjadi banjir jika tidak dilakukan upaya pengendalian banjir yang komprehensif dan berkelanjutan," kata Sutopo.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP