TUTUP
TUTUP
FOKUS

Waspada, Predator Seks Anak Merajalela Lewat Media Sosial

Media sosial disalahgunakan untuk berbagi foto dan video seksual anak.
Waspada, Predator Seks Anak Merajalela Lewat Media Sosial
Ilustrasi paedofilia (http://www.affaritaliani.it)

Bukan salah Facebook

Pegiat Internet Sehat dari ICT Watch, Dewi Widya Ningrum, mengatakan jika teknologi dan Facebook tidak bisa disalahkan. Pasalnya, bagaimanapun dunia tidak bisa membendung teknologi, justru harus dimanfaatkan sepandai-pandainya. Apalagi sudah ada ketentuan dari Facebook terkait dengan syarat penggunaan.

"Facebook tidak bisa disalahkan begitu saja karena mereka hanya menyediakan layanan. Mereka juga memiliki Term of Service yang tegas dan jelas terkait usia minimal pengguna yang boleh membuat akun. Namun saya ragu, tidak semua orang tua atau anak mau membaca aturan itu. Jadi tanggung jawab terbesar untuk menghindari anak dari kejahatan internet seperti paedofil itu ada di orang tua," ujar Dewi kepada Viva.co.id.

Dikatakan Dewi, kesalahan terbesar orang tua adalah membiarkan anak menggunakan teknologi dan internet tanpa adanya pendampingan. Anak sengaja diberikan gadget hanya agar anak tidak rewel, atau sekedar ikutan tren.

"Intinya ada di edukasi literasi digital. Bekali anak dengan pengetahuan melindungi diri dari bahaya di dunia maya. Beri mereka pemahaman mengenai penyalahgunaan, resiko maupun hal-hal negatif yang mungkin timbul saat berinternet, beri tahu cara pencegahan atau cara menghindari. Yang terpenting, tekankan ke anak agar selalu berkomunikasi dengan orang tua jika melihat atau mengalami hal aneh atau tidak nyaman saat berinternet," papar Dewi.

Selain itu, lanjut Dewi, sebaiknya orang tua peka jika terkesan ada perubahan dalam perilaku anak. Untuk menghindari situs yang tidak diinginkan, orang tua juga bisa menggunakan software-software parental. Namun itu dikatakannya hanya sebagai alat bantu dan tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran orang tua dalam mengawasi anak.

"Komunikasi dua arah tetap yang utama," katanya.

Sama halnya dengan psikolog Elly Risman yang mengatakan ada tujuh hal penting yang harus diajarkan pada anak di dunia internet. Tujuh hal penting itu adalah orang tua harus siap menjadi ayah, mengasuh anak harus dilakukan berdua, Ayah harus ambil bagian juga, Komunikasi dengan anak,melindungi anak dengan pengajian yang turin. Sedangkan terakhir adalah mengajarkan anak untuk menjaga pandangan dan dipersiapkan menjelang baligh.

Sayangnya, ICT Watch belum memiliki data spesifik mengenai jumlah kasus kejahatan internet yang melibatkan korban anak-anak. Namun begitu, Dewi mengungkap jika saat ini, ICT Watch dan beberapa organisasi masyarakat membuat lembaga gabungan dan terbuka untuk menyelamatkan anak Indonesia dari kejahatan Internet, dinamakan Indonesia Child Online Protection (ID-COP).

Dijelaskan Dewi, ID-COP dibentuk di Jakarta pada 1 Desember 2014  di sela pertemuan yang dihadiri oleh sejumlah pihak antara lain; KPAI, ECPAT Indonesia, Nawala, Terre Des Hommes, Google Indonesia, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jakarta, Kementerian PPPA, Himpunan Psikologi Indonesia, Bareskrim Polda Metro, Yayasan Kita dan Buah Hati, ICT Watch.

"Ini semacam gerakan bersama untuk menyelamatkan anak Indonesia di internet. ID-COP diharapkan bisa berperan sebagai tim 'reaksi cepat' jika ada anak yang menjadi korban, seperti paedofilia online, cyberbully, dan lainnya," katanya.

Untuk melakukan pelaporan bisa melalui help deks di KPAI atau kirim laporan melalui email ke info@idcop.id
atau telepon KPAI: 31901446 ext 117 | 02131901446 ext 117.

Selanjutnya, Sasaran Empuk

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP