TUTUP
TUTUP
FOKUS

Waspada, Predator Seks Anak Merajalela Lewat Media Sosial

Media sosial disalahgunakan untuk berbagi foto dan video seksual anak.
Waspada, Predator Seks Anak Merajalela Lewat Media Sosial
Ilustrasi paedofilia (http://www.affaritaliani.it)

Sasaran Empuk

Kejahatan paedofil di media sosial ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Saat melakukan pencarian di Google dengan keyword 'Facebook' dan 'paedofil', beberapa berita kejahatan seksual terhadap anak banyak bermunculan. Total ada 3,58 juta berita terkait Facebook dan Paedofilia.

Ada yang menggunakan media sosial untuk mengambil gambar anak kemudian mengeditnya sedemikian rupa demi memuaskan fantasi seks mereka. Ada juga yang sama, menggunakan grup Facebook untuk berbagi foto dan video seksual anak.

Sejatinya Facebook sudah memberikan peringatan tegas untuk penggunanya yang ingin bergabung, wajib berusia di atas 13 tahun. Dalam Terms of Service, bagian Registrasi dan Account Safety, poin 5 tertulis bahwa pengguna tidak boleh mendaftar akun Facebook juga berusia di bawah 13 tahun. Sedangkan pada poin 6 tertera jika Facebook tidak boleh digunakan oleh terpidana penjahat seksual.

Dalam sesi tanya jawab di laman media sosial dunia itu, Facebook juga menegaskan jika diketahui akun atau grup yang berisi konten aneh dan tidak membuat nyaman, maka pengguna bisa melaporkannya.

"Pelaporan bisa dilakukan dengan membuka halaman grup yang ingin dilaporkan, kemudian klik titik tiga di bawah cover foto group, klik pilihan Report Page. Setelah itu, pengguna bisa memilih kolom untuk menjelaskan mengapa grup tersebut dilaporkan," tulis pihak Facebook.

Sedangkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika, dengan tegas langsung menggelar jurus andalannya dalam mengatasi konten yang melanggar, blokir.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menegaskan, para paedofil beraksi di platform yang sifatnya publik, apakah itu situs atau pun media sosial, maka Kominfo tidak menimbang apa pun untuk pemblokiran.

"Yang berkaitan dengan pornografi, tanpa ‘babibu’, tanpa harus berkoordinasi. Karena berkaitan dengan UU, kita bisa lakukan pembatasan akses atau penutupan akses," jelas pria yang akrab disapa RA itu di Kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis 16 Maret 2017.

Dia mengatakan, dalam kasus konten pornografi ditemukan di pesan instan WhatsApp maupun Facebook yang sifatnya privat dan lainnya, pemerintah bisa ikut campur jika sudah sudah sampai ranah hukum.

“Seperti sekarang kasus paedofil di Facebook, sudah menjadi kasus hukum, sehingga Kominfo masuk di situ bersama polisi," jelas Rudiantara.

Ini artinya, baik Facebook maupun pemerintah dan pihak berwajib telah menjalankan tugasnya untuk melindungi warganya. Tinggal bagaimana edukasi literasi digital dan pendampingan yang dilakukan oleh orang tua di rumah. Mungkin bisa dimulai dengan membatasi penggunaan gadget di rumah dan lebih sering berkomunikasi dengan anak. (ren)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP