TUTUP
TUTUP
FOKUS

Sengkarut Ujian Nasional Berbasis Komputer

Persoalan infrastruktur menjadi kendala ujian nasional ini.
Sengkarut Ujian Nasional Berbasis Komputer
Ilustrasi Hari Pertama Pelaksanaan UNBK SMK  (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

VIVA.co.id – Dua hari pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer, satu masalah dan lainnya mulai mengemuka. Sedari persoalan infrastruktur hingga faktor-faktor yang tampaknya kurang dipersiapkan pemerintah, pula oleh lembaga pendidikan. Sistem baru yang diberlakukan bertahap ini butuh evaluasi.  Persiapan tes yang  ideal untuk menguji para siswa yang notabene generasi penerus bangsa, jelas bukan hal remeh.  

Secara serentak ujian nasional berbasis komputer atau UNBK berlangsung per 3 April 2017. UNBK akan diawali dengan pelaksanaan ujian untuk Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK yang akan berlangsung mulai tanggal 3 hingga 6 April mendatang. Setelah itu akan disusul dengan SMA dan sekolah jenjang lainnya.

Pada tahun ini menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ujian nasional akan diikuti hingga 1.327.246 siswa. Dari jumlah tersebut, 88,6 persen atau 1.176.391 siswa mengikuti ujian dengan menggunakan gawai komputer. Sisanya masih menggunakan gaya konvensional, dengan kertas dan pensil sebagaimana ujian yang dilakukan sejak dahulu.

Kementerian juga sempat melansir  ada 6 provinsi yang sudah 100 persen melakukan UNBK untuk jenjang SMK yaitu Provinsi Bangka Belitung, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

“Total satuan pendidikan yang menyelenggarakan UNBK SMK adalah 9.829 sekolah,” kata Irjen Kemendikbus Daryanto di  Kantor Kemendikbud, Jakarta Pusat, Senin 3 Maret 2017.

Namun angka 100 persen di enam provinsi itu ternyata tak menggambarkan pelaksanaan mulus dan tanpa hambatan. Buktinya, dari pantauan di lapangan, masih terdapat sejumlah minus di daerah-daerah yang disebut siap menyelenggarakan UN secara berbasis komputer.

Sebut saja di Jakarta Timur pada Selasa, 4 Maret 2017, ternyata beberapa sekolah masih memiliki perangkat komputer dengan jumlah yang sangat terbatas. Imbasnya tak lain, langsung dialami para siswa yang akan menempuh ujian. Di Jakarta Timur dipantau bahwa SMK melaksanakan ujian terpaksa dengan beberapa sesi setiap harinya.

Wakil Wali Kota Jakarta Timur M Anwar sengaja mengunjungi beberapa SMK di wilayahnya untuk memantau pelaksanaan UNBK antara lain di SMKN 40 Jakarta dan SMK Pangudi Luhur di Kawasan Matraman. M Anwar setelah memantau UNBK mengakui bahwa masih ada keterbatasan fasilitas mesin pintar alias komputer pada hari kedua UNBK.

Sementara Sulawesi Selatan juga termasuk salah satu dari enam provinsi yang menyelenggarakan UNBK SMK 100 persen. Namun ternyata di daerah ini juga masih terpantau adanya masalah dalam pelaksanaan ujian. Pada Senin, hari pertama pelaksanaan ujian  di SMK di Jeneponto, Sulawesi Selatan harus molor lantaran gangguan pada sistem server hingga kurangnya pasokan daya listrik. Akibatnya di SMKN 8 Jeneponto, ujian baru mulai sekitar pukul 10.00 WIB.

Kepala SMKN 8 Jeneponto, Junaid sempat menjelaskan sejumlah masalah yang dialami pada awal pelaksanaan UNBK tersebut. Pertama, jaringan komputer sempat bermasalah saat siswa akan mengisi jawaban dari soal UNBK. Kedua, listrik yang tidak kuat dan menyebabkan listrik padam hingga sekolah harus mematikan alat yang menyedot daya listrik besar.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP