TUTUP
TUTUP
FOKUS

Gempuran Ransomware di Jagad Siber

Virus ini disebut juga teroris siber. Kenapa?
Gempuran Ransomware di Jagad Siber
Ilustrasi virus komputer (Pixabay/geralt)

VIVA.co.id – Dunia maya tengah dihebohkan dengan serangan perangkat lunak berbahaya malicious software atau malware.  Berjenis ransomware, dengan nama WannaCry, virus ini telah menyebar dengan agresif di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Di Tanah Air, seperti dikutip dari siaran pers Kementerian Komunikasi dan Informatika, Sabtu, 13 Mei 2017, virus itu diduga menyerang sistem komputer di  Rumah Sakit Harapan Kita dan Rumah Sakit Dharmais, Jakarta. 

Serangan siber di RS Dharmais terjadi sejak Sabtu, 13 Mei 2017 pagi. Seketika, semua komputer harus dimatikan agar virus tidak menyebar. Sistem komputer di rumah sakit itu pun lumpuh. Operasional rumah sakit pun terganggu lantaran sistem administrasi hingga penagihan dilakukan secara manual.

"Jadi billing pasiennya, dari yang ke luar dari rumah sakit, sampai semuanya dipakai manual," ujar Direktur Utama Rumah Sakit Dharmais, Abdul Kadir saat dihubungi VIVA.co.id, Sabtu, 13 Mei 2017.

Saat ini, data-data pribadi milik rumah sakit masih terjamin keamanannya. Agar tidak lagi terjadi penumpukkan pasien, tim IT sudah melakukan upaya pencegahan. Rumah sakit tersebut juga melakukan perbaikan pelayanan yang sempat terganggu, Sabtu lalu. Prioritasnya, dengan membuka kembali pelayanan untuk farmasi, rawat inap, rawat jalan.

Adapun RS Harapan Kita menampik sistem komputer mereka telah diserang ransomware. Pelayanan kepada pasien yang sedang berobat disebut tak terganggu sedikit pun. Masyarakat diminta tak khawatir memanfaatkan layanan kesehatan di rumah sakit tersebut. "Pelayanan terhadap pasien tetap lancar karena kami sudah pastikan bahwa kita itu tidak kena (serangan siber)," ujar Humas RS Harapan Kita, Anwar.

Ransomware WannaCry dapat menyerang semua sektor. Namun, menurut Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara, serangan itu lebih banyak menyasar bisnis proses di rumah sakit. “Saya tidak tahu kenapa hanya menyerang bisnis RS," katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu, 14 Mei 2017. 

Pada dasarnya, ransomware menyerang sistem komputer berbasis Windows yang diinfeksi dengan cara mengenkripsi atau 'mengunci' berkas-berkas di sana. Supaya berkas bisa diakses kembali, pengguna diminta melakukan sejumlah pembayaran elektronik ke pembuat perangkat lunak.

Serangan ransomware WannaCry itu bisa dianggap sebagai bentuk terorisme siber. Sebab, serangan terjadi secara masif ke banyak sistem komputer di seluruh dunia serta menyasar critical resource atau sumber daya penting. "Dengan adanya serangan siber ini, kami minta agar masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kehati-hatian dalam berinteraksi di dunia siber," ujar Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Sammy Pangerapan

Ransomware yang juga dikenal sebagai virus pemalak, menargetkan lebih dari 75 ribu komputer di 99 negara di dunia. Data terbaru, seperti dikutip situs Russia Today, Sabtu, 13 Mei 2017, peningkatan aktivitas malware ini diketahui Jumat, 12 Mei 2017.

Perusahaan keamanan perangkat lunak, Avast, melaporkan peningkatan virus itu. "Dalam hitungan jam, lebih dari 75 ribu serangan telah terdeteksi di seluruh dunia," bunyi keterangan resmi Avast. Ransomware juga terdeteksi menargetkan Inggris, Swedia, Spanyol, Rusia, Ukraina dan Taiwan. 

Virus ini merupakan versi upgrade dari ransomware yang pertama kali muncul pada Februari tahun ini. Ransomware dipercaya hanya mempengaruhi komputer yang dioperasikan Windows, dengan mengubah nama ekstensi file yang terpengaruh menjadi "WNCRY".

Untuk membuka kunci file yang terinfeksi, korban dituntut membayar US$300 senilai bitcoin yang harus dibayar. "Korban diberi tenggat waktu untuk bayar tebusan. Jika mereka gagal membayar maka data mereka akan dihapus," bunyi pernyataan Avast memperingatkan.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP