TUTUP
TUTUP
FOKUS

Kala Meriam Asal Tiongkok Renggut Nyawa Prajurit TNI

TNI harus investigasi menyeluruh. Jangan membuat mereka mati sia-sia.
Kala Meriam Asal Tiongkok Renggut Nyawa Prajurit TNI
Pemakaman seorang prajurit TNI yang gugur saat latihan di Natuna pada 17 Mei 2017. (ANTARA FOTO/Aji Styawan)

Konflik kawasan

Dewan Perwakilan Rakyat mengingatkan TNI agar tak menganggap enteng insiden yang disebut hanya satu senjata yang malafungsi. Bukan urusan satu atau seribu senjata. Masalahnya adalah satu meriam itu bagian dari sistem besar pertahanan nasional.

Masalah lagi karena insiden itu terjadi di Natuna, kawasan strategis sekaligus dianggap ujung tombak pertahanan Indonesia terutama dari sengkarut sengketa Laut Tiongkok Selatan. Indonesia memang tak terlibat dalam sengketa wilayah itu. Tetapi, selain Tiongkok, empat negara (Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, dan Malaysia) yang bersengketa adalah negara tetangga Indonesia.

“Alutsista (alat utama sistem persejataan TNI) dan peralatan tempur yang disiagakan harus dalam kondisi prima dan siaga tempur saat krisis terus meningkat di Laut China Selatan," kata Ketua Komisi Pertahanan DPR, Abdul Kharis Almasyhari, melalui keterangan tertulis pada Kamis, 18 Mei 2017.

Parlemen menganggap fatal kalau ternyata alutsista TNI yang ditempatkan di kawasan strategis itu bermasalah. Karena di sanalah pertahanan paling depan dan paling vital jika sewaktu-waktu terjadi kontak senjata antara negara-negara yang bersengketa di Laut Tiongkok Selatan.

Tiongkok memang negara paling berkepentingan di kawasan itu. Sementara Indonesia menggunakan senjata yang dibuat negeri Tirai Bambu sebagai bagian sistem pertahanan, dan ternyata bermasalah.

"Pasti yang dikasih bekas-bekasnya, atau rusak-rusaknya. Tak mungkin dia (Tiongkok) pasang (menjual) alatnya (senjata buatannya) yang dia tak bisa lawan," kata Elnino M Husein Mohi, anggota Komisi Pertahanan DPR, dalam kesempatan terpisah di kompleks Parlemen di Jakarta. 

Wakil Ketua Komisi Pertahanan DPR, Tubagus Hasanuddin, berpendapat lebih bijak. Meriam Giant Bow, katanya, sebenarnya bukan senjata usang. Soalnya kanon itu dibeli TNI pada 2008 yang berarti sudah sembilan tahun. “Masih layak, atau menurut hemat saya, sangat layak.”

Lagi pula, kata Hasanuddin, senjata TNI Angkatan Darat yang berusia 50 tahun masih lazim digunakan sampai sekarang. "Jadi, kalau disebut usang, memang belumlah,” ujarnya.

Purnawirawan mayor jenderal TNI itu berjanji bahwa Komisi I DPR secepatnya meminta penjelasan Angkatan Darat berdasarkan hasil investigasi. Hasil penyelidikan amat penting sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan langkah selanjutnya bagi TNI maupun pemerintah.

Alfret Denny Tuejeh memastikan aparatnya sudah mengerahkan tim untuk menginvestigasi peristiwa malafungsi meriam Giant Bow. Tapi dia tak menyebutkan hasil penyelidikan itu akan diumumkan kepada publik. “Hasil investigasi yang dilakukan oleh tim dari TNI AD,” katanya dikutip dari laman Tniad.mil.id, “nantinya akan dilaporkan kepada Panglima TNI.”

Selanjutnya...Diklaim Senjata Spektakuler

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP