TUTUP
TUTUP
FOKUS

Setelah Lulus Kampus Negeri, Lalu Apa?

Banyaknya kampus di Indonesia, diakui di atas jumlah kampus di China.
Setelah Lulus Kampus Negeri, Lalu Apa?
Ilustrasi-Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2017 (ANTARA FOTO/Ampelsa)

Ketimpangan nyata

Data dari Kemenristek Dikti, selama 2014-2017, memang menunjukkan jumlah peminat SNMPTN. Jumlah ini seiring dengan banyaknya kampus negeri yang mulai ikut berpartisipasi. (lihat tabel dan infografis)

Jumlah Pendaftar SNMPTN:
2014: 664.509 orang
2015: 764.185 orang
2016: 721.326 orang
2017: 797.023 orang

Jumlah Perguruan Tinggi Negeri:
2014: 64 buah/91.294 kursi
2015: 74 buah/115.788 kursi
2016: 78 buah/126.804 kursi
2017: 85 buah/128.085 kursi

Dari data ini diakui, memang terjadi peningkatan jumlah pendaftar. Kampus negeri tetap menyedot banyak peminat. Namun, di balik ini ada fakta yang mengejutkan bahwa meski diminati, ternyata jumlah universitas negeri di Indonesia begitu minim.

Tercatat hingga 2017, dari total 4.472 perguruan tinggi, lebih dari 4.000-nya adalah kampus milik swasta. Suka tidak suka, kampus swasta tetap merajai jebolan mahasiswa di Indonesia.

Meski kemudian dari periode 2010-2014, pemerintah mulai menerbitkan kebijakan pe-negeri-an puluhan kampus swasta yang beberapa diantaranya banyak di daerah terpencil.

Ristek Dikti

INFOGRAFIS: Sebaran Perguruan Tinggi di Indonesia/ristekdikti.go.id

Namun, memang jumlah itu tetap belum signifikan. Atas itu, mahfum kemudian mengapa kampus negeri begitu diminati. Harapan bisa menekan biaya yang terkenal mahal di swasta pun menjadi faktor pemicu awal. (Baca: Jalan Panjang 'Menegerikan' Kampus Swasta)

Atas itu, jika kemudian pada 2017, dari total peserta 797.738 orang yang mengadu nasib di ujian SNMPTN, bisa dipastikan kini ada 649.872 orang yang mesti berjuang lagi di gelombang berikutnya bila tetap ingin di kampus negeri.

Tes itu berupa ujian mandiri. Setidaknya, ini menjadi pintu terakhir sebelum menuju kampus swasta bagi mereka yang tak mau bersabar menunggu pada tahun depan lagi. "Jangan berkecil hati," kata Panitia SBMPTN Ravik Karsidi.

Fakta lain yang juga cukup mengejutkan adalah masih tingginya disparitas mutu pendidikan. Dari total 4.472 perguruan tinggi, baru 50 kampus saja yang telah terakreditasi A dan sebanyak 2.512 program studi terakreditasi A, atau baru 12 persen dari 20.254 program studi.

Kondisi ini, akhirnya berkorelasi dengan mutu lulusan yang akan dilahirkan. "Ini menunjukkan bahwa mutu sebagian besar perguruan tinggi dan prodi kita, masih sangat memprihatinkan dan perlu penanganan serius dan sitematis," kata Direktur Penjaminan Mutu Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Aris Junaidi.

Ilustrasi wisuda.

FOTO: Ilustrasi/Wisuda mahasiswa

 

Atas itu, meski kini secara fakta gelombang antusiasme atas SBMPTN memang meningkat. Namun, hal yang lebih prioritas kini adalah bagaimana mutu lulusan mereka di perguruan tinggi kelak.

Sebab, ini menjadi masalah pelik paling penting ke depannya. Lulus di sebuah perguruan tinggi negeri bukan akhir, tetapi justru dari awal mula generasi Indonesia ke depan.

Generasi yang baik maka akan menjadi indikator sejahteranya sebuah bangsa. Seperti kata Menristek Dikti Mohamad Nasir, "Kalau pendidikan tingginya baik, pasti kota itu akan berubah cepat. Pertumbuhan ekonomi akan seperti deret ukur, bukan deret hitung. Pertumbuhan ekonomi rendah karena SDM (Sumber Daya Manusia)-nya rendah." (asp)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP