TUTUP
TUTUP
FOKUS

Cerita Berulang Sel Mewah Bandar Narkoba

BNN mengusut pencucian uang narkoba senilai Rp39 miliar.
Cerita Berulang Sel Mewah Bandar Narkoba
BNN mengungkap TPPU kasus narkotika senilai Rp39 miliar (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Jaringan Freddy Budiman

Pengungkapan sel mewah ini berawal saat satu tim dari BNN mengamankan tersangka berinisial LLT dan A. Mereka terlibat dalam tindak pidana pencucian uang (TPPU) kasus narkotika dari tersangka LLT, yang merupakan penghuni Lapas Medaeng Surabaya yang ditangkap pada 2016, dengan kepemilikan 40 butir ekstasi.

LLT merupakan seorang residivis kasus narkotika dengan barang bukti kurang lebih lima gram sabu dan divonis empat tahun penjara pada 2001. Komjen Buwas menyebut, tersangka LLT ini merupakan jaringan dari Haryanto Chandra alias Gombak, napi Lapas Cipinang.

Kemudian, BNN mengembangkan penyelidikan melalui tersangka LLT dan berhasil menangkap satu tersangka berinisial A alias Xuxuyati di Surabaya. "Tersangka A merupakan pengelola keuangan milik tersangka Haryanto Chandra alias Gombok selama ia berada di dalam lapas," ujar Buwas.

Dari situ, tim BNN bergerak melakukan penggeledahan di ruang sel di Lapas Cipinang yang dihuni oleh terpidana Haryanto Chandra alias Gombak. Ditemukanlah sel mewah dengan fasilitas pendukung mengelola jaringan dari dalam lapas.

Berdasarkan hasil pengungkapan ini, petugas TPPU BNN berhasil mengamankan barang bukti di antaranya, uang dalam rekening tersangka LLT, uang dalam rekening tersangka A, satu unit rumah di Jawa Timur, satu unit mobil minibus tahun 2017, dengan total aset senilai Rp9,6 miliar.

Selanjutnya, selain pengungkapan di Surabaya dan Cipinang, tim BNN lainnya juga bergerak mengungkap tindak pidana pencucian uang kejahatan narkoba yang berasal dari jaringan terpidana mati Chandra Halim alias Akiong.

Aset yang disita jumlahnya fantastis mencapai Rp29 miliar lebih. Akiong merupakan jaringan mafia narkoba Freddy Budiman. Akiong adalah pemasok narkotika 45 kilogram sabu dari Hong Kong yang dimasukkan dalam tiang pancang tahun 2016.

"Jaringan Akiong yang ada hubungan dengan almarhum Freddy Budiman, yang katanya menyuap oknum BNN," kata Komjen Buwas.

Dalam kasus ini, BNN menangkap seorang berinisial CJ, seorang pengusaha money changer. Lokasi money changer milik CJ diketahui sebagai tempat penukaran dan pengiriman uang dari hasil perdagangan gelap narkotika dan beberapa bandar seperti Chandra Halim dan Loe Kok Ming, seorang narapidana di Rumah Tahanan Salemba.

Kemudian, petugas BNN melakukan pengembangan dari tersangka CJ dan berhasil menangkap satu orang berinisial CSN alias Calvin warga negara Inggris di wilayah Lokasari Blok A No.5-6 Jakarta Utara. "Yang merupakan keponakan Chandra Halim yang berperan sebagai pengelola keuangan," ujarnya.

Menurut Buwas, tersangka CSN alias Calvin sempat melarikan diri ke Bali, China dan Hong Kong untuk menghindari kejaran petugas BNN. Upaya pengejaran ini terjadi saat BNN menangkap Akiong dan Piter Chandra pada 2016.

Dengan demikian, BNN berhasil menyita aset pencucian uang dari kejahatan narkoba senilai Rp39 miliar. Jumlah itu berasal dari penggabungan tindak pidana pencucian uang dengan rincian sitaan dari Haryanto Chandra, Angelina, dan LLT sebesar Rp9,6 miliar. Kemudian, CSN dan CJ senilai Rp29,9 miliar.

Adapun para tersangka kasus TPPU ini dikenai Pasal 137 huruf b Undang Undang No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Selain itu, para tersangka dikenai Pasal 3,4, dan 5 Ayat 1 Undang Undang No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Selanjutnya, Pecat Kalapas

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP